Esai

Percayalah, Butuh Lengan Kuat untuk Jadi Wartawan

05.31


SETELAH MAGANG jadi wartawan, saya jadi sering push up tiap pagi. Sebelumnya, boro-boro push up. Mengangkat laundrian 3 kg saja ngos-ngosan.

Rutinitas push up tadi berasal dari buah kesadaran penting. Saya sadar kalau jadi wartawan bukan cuma butuh kemampuan menulis yang baik, bacaan yang luas, dan kemampuan wawancara yang lamis. Ternyata, jadi wartawan juga harus punya kekuatan lengan yang kuat.

Begini asal muasalnya. Syahdan, saya tengah magang di media daring yang sering dikira perusahaan air minum (apa hayo?) Di minggu kedua magang, di hari Jumat yang agung, koordinator liputan media tempat saya magang bersabda agar saya berangkat ke Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM). Katanya, alumni gerakan 212 mau reunian di sana.

Acara reuinian ternyata ramai juga. Tapi yang bikin ramai bukan nonton bareng Wiro Sableng atau gerak jalan bareng Partai Syariah 212. Ternyata selain reunian, mereka mau melayangkan pengaduan ke Komnas HAM. Kebetulan, junjungan agung mereka tengah diterpa kasus dugaan pesan cabul. Takbir! Baca selengkapnya...

Esai

Mengapa Masih Turun ke Jalan?

04.31


ESAIS DAN DEMONSTRAN telah bekerjasama. Langka memang. Tapi gegara menyoal demonstrasi digital, kelangkaan itu terpaksa ada. Contohlah esai Na’imatur Rofiqoh dan Ririn Setyowati. Walau penuh nyinyiran tapi nyaris solutif.

Penyiaran demonstrasi secara digital yang dilakukan Badan Eksekutif Mahasiswa Seluruh Indonesia (BEM SI) wilayah Jawa Tengah-DIY, melalui akun instagram @bemuns, 12 April 2017, sudah seperti ‘ramalan’ ciamik yang terwujud sebagai bentuk praktis dari esai Na’imatur, Aktivisme Mahasiswa di Era E-Demonstrasi (Kentingan, 2016).

Kemudian melalui esai Gawaiku Ramaikan Demonstrasimu (Solopos, 18 April 2017), Ririn Setyowati naik satu tingkat dengan jeli dan nyaris solutif merumuskan sebuah pertanyaan yang harus dijawab oleh para mahasiswa demonstran, “bagaimana membuat Jokowi dan antek-anteknya nge-klik live streaming kamu” (?).

Kini, izikan aku menjawab pertanyaan itu. Syukur bisa menjadi solutif seperti apa yang demonstran tunggu-tunggu. Baca selengkapnya...

Esai

I-Y-A-K

16.02

Iyak Belajar Mengaji
Ibu, Bapak, dan adik-adiknya memanggil bocah itu Iyak. Usia Iyak lima tahun. Ia senang belajar mengaji. Setiap malam usai sembahyang magrib, Iyak menghadap buku Qiraati. Itu sepuluh jilid buku untuk belajar huruf hijaiah. Dengan tekun, Ibu mengajari Iyak mengaji. “Alif fatah A, Alif kasrah I, Alif dhumah U. A-I-U.”

Dengan lincah, bola mata dan jari mungil Iyak mengikuti aliran huruf yang lucu itu. Ada yang bentuknya macam pentungan, ada yang bentuknya seperti semprotan kaca, ada juga yang seperti perahu.

Ibu biasa membeli buku Qiraati di pasar. Jadi, setiap mengkhatamkan satu jilid dan naik ke jilid berikutnya, Iyak selalu menanti Ibu pulang dari pasar membawa buku Qiraati yang baru. “Ibu, kapan beli Qiraati jilid baru?” Tanya Iyak penasaran. Warna bukunya yang warna-warni membuat Iyak semangat belajar mengaji. Baca selengkapnya...

Esai

Fakir Sastra, Fakir Asmara

20.29

Mimbar Mahasiswa Solopos, 27 Desember 2016
Melalui perkiraan kasar cenderung ngawur, saya mengira-ngira 95 persen buku sastra yang habis saya baca, mengandung kisah asmara di dalamnya.

Memangnya, kenapa sih cerita sastra hampir pasti ada kisah asmaranya, Sat?”

Saya menemukan jawaban pertanyaan ini di novel Siddhartha (Herman Hesse, 2014). Siddhartha yang sejak kecil hidup dalam ketenangan batin, menjadi pertapa, bahkan sempat bertemu Buddha Gautama, belum menemukan kebahagiaan hidup. Ia merasa, mematikan indranya melalui pertapaan bukanlah cara buat mencapai kebahagiaan.

Hingga akhirnya Siddhartha bertemu Kamala, seorang pelacur yang terhormat-dihormati. Siddhartha mempelajari cinta darinya. Kamala menjadi tokoh yang sungguh penting. Kalau tidak ada dia, tidak mungkin Siddhartha merasa penat dengan urusan duniawi, lantas ingin bunuh diri di tepi kali. Di tepi kali itulah Siddhartha mendengar suara yang membimbingnya menuju kebahagiaan, “Om...”

Nah, cinta nyatanya bisa menembus sekat-sekat rasionalitas, spiritualitas, apalagi cuma religiusitas.  Sastra pun demikian. Para mahasiswa dan dosen bisa saja berkelana mencari pengetahuan di buku-buku diktat dan teori. Namun bertemu sastra – seperti Siddhartha bertemu Kamala – akan menghidupkan indra-indra yang mati karena tuntutan rasionalitas. Baca selengkapnya...

Ulasan (Buku)

"Simulakra Sepakbola" (Zen RS): Bermain Sepakbola dengan Tangan

19.47

Koran Tempo, 12 November 2016
Judul Buku    : Simulakra Sepakbola
Penulis           : Zen RS
Penebit           : Indie Book Corner
Tahun Terbit : 2016

Priiittt! Zen RS menyentuh bola dengan tangan di kotak 16. Wasit meniup peluit tanda pelanggaran terjadi. Tapi Zen berkilah. “Kini, saya hanya bisa bermain sepakbola dengan tangan yang mengetikkan huruf demi huruf, kata demi kata, dan kalimat demi kalimat – menuliskan sepakbola” (hlm. 17).

Sungguh Zen telah berkhianat. Padahal sepakbola telah mengantarkannya dari kekanak-kanakan menuju kedewasaan. Dalam tulisan Kebahagiaan Sepakbola Agustusan, Zen berkisah tentang sepakbola yang menjadi ritual penting di kampungnya. Berkat turnamen sepakbola antarkampung, Zen kecil bisa duduk sejajar dengan para pemuda dan orang dewasa, menghadiri rapat-rapat Karang Taruna, hingga diundang secara langsung ke pesta pernikahan.

Tapi tak apalah. Pengkhianatan Zen terhadap kakinya bisa dimaafkan oleh pembaca. Simak bagaimana lihainya ia memainkan bola dengan tangan di esai Bertukar Tangkap dengan Lepas. Sebuah pelacakan Zen ihwal keterbatasan bahasa Indonesia dalam menampung istilah-istilah sepakbola. Baca selengkapnya...

Ulasan (Buku)

"#Narasi-Antologi Prosa Jurnalisme" (Pindai): Generasi Kedua Jurnalisme Sastrawi

19.42

Koran Tempo, 16 Maret 2016
Judul Buku     : #Narasi: Antologi Prosa Jurnalisme
Penerbit         : Pindai
Penyunting     : Wisnu Prasetya Utomo
Tahun Terbit : 2016

ADA tagar (#) di depan judul buku ini. Sebuah tanda yang populer di media sosial, sebagai penghimpun cuitan atau status dengan topik yang seragam. Tanda ini menyatukan ratusan, ribuan, bahkan jutaan ocehan netizen di media sosial yang memiliki kesamaan tema.

Padahal, bila kita tengok Kamus Besar Bahasa Indonesia, tagar artinya bunyi guruh atau guntur. Arti ini mungkin menjelaskan beberapa tagar yang paling banyak diperbincangkan, lalu menjadi trending topic. Menjadi topik-topik yang paling bergemuruh di jagad maya.

Tagar di depan buku ini pun demikian. Ia menjadi penghimpun situs dan blog yang menawarkan alternatif lain dalam jurnalisme. Mencoba bergemuruh di tengah Jurnalisme Pedagang Asongan (mengutip judul tulisan Coen Husain Pontoh) yang sedang menjamur. Tak kurang dari sebelas situs dan blog bisa ditemui di buku ini. Dari Pindai.org, Panajournal.com, Bacaan Malam, Mojok.co, Historia, Belakang Gawang, rusdimathari, Disorder Zine, Literasi.co, Minumkopi.com, dan IndoProgress. Beberapa situs menyumbang tulisan yang ada di buku ini, beberapa lagi dikelola oleh sang penulis. Hanya tujuh dari delapan belas tulisan yang berasal dari media cetak.

Situs-situs tadi memang jarang muncul di jagad media maya arus utama. Para pembaca praktis lebih mengenal situs berita arus utama. Tapi tidak berada di arus utama bukan berarti mereka tak bisa menghasilkan “air” yang jernih. Baca selengkapnya...

Esai

Mahasiswa Penulis dan Penjaja Buku

19.37

Mimbar Mahasiswa Solopos, 27 September 2016
TUJUH mahasiswa menerbitkan tujuh buku secara bersamaan. Bukan buku antologi status Facebook. Bukan pula buku kumpulan foto Instagram. Tapi buku kumpulan esai yang mereka tulis kala menyandang status mahasiswa. Bukan dosen, peneliti, pengamat, apalagi birokrat. Sekali lagi: ma-ha-sis-wa.

Lalu kenapa? Wong bukunya tipis kok, lumayan enak buat kipas-kipas. Cetaknya juga cuma sekitar 50 eksemplar per buku, tergantung pesanan. Ketujuh penulisnya, Hanputro Widyono, Na’imatur Rofiqoh, Imawati Rofiqoh, Udji Kayang Aditya Supriyanto (yang ini sudah mantan mahasiswa), Isvita Septi Wulandari, Laila Sari, dan Qibtiyatul Maisaroh, juga bukan mahasiswa penerima beasiswa yang harus ber-IPK tinggi, mahasiswa berprestasi, atau mahasiswa aktivis politik yang seharusnya justru banyak karya. Cuma ma-ha-sis-wa, biasa.

Penerbitnya bukan penerbit universitas semisal UNS Press, UMS Press, IAIN Press, Prambanan Ex-press (eh). Penerbit-penerbit kampus barangkali sibuk menerbitkan buku-buku pegangan kuliah. Lalu mewajibkan mahasiswa-mahasiswa, apalagi mahasiswa baru yang masih unyu, untuk membeli buku “Pengantar” karya dosen mereka sendiri. Nah, sama kan seperti Prambanan Express. Sama-sama “mengantar.” Ketujuh buku tadi: Kampus Saja, Asmara Bermata Bahasa, Pengikat dan Pencatat, Rerasan Urban, Menu di Kertas, Janda Berjalan Nenek Berdongeng, dan Santapan Selera “cuma” diterbitkan sebuah penerbit indie di kota Solo, penerbit Jagad Abjad. Baca selengkapnya...

Like us on Facebook