Rekaman

Ingatan yang Terprentah

09.38

Oleh: Satya Adhi dan Vera Safitri


Betapa sempit ruang ingatan yang tersisa buat seni budaya kontemporer di Indonesia.


Di Gang Sempit 188 A/B

Wajah Santosa dibanjiri keringat. Ia baru saja pulang usai membeli makan siang ketika seorang perempuan usia 20-an tahun menghampirinya. Si perempuan datang bersama seorang lelaki. Mereka terlihat seumuran. Keduanya menanyakan salah satu arsip untuk keperluan penelitian yang tengah dikerjakan.

Kepungan kertas-kertas, buku, dan arsip membikin ruangan itu makin gerah. Meski luasnya hanya setara lapangan futsal, ada puluhan ribu ingatan seni rupa Indonesia tersimpan di situ. Wajar jika Santosa makin membulirkan keringat. 

Di lantai dua, tepat di pojok, sebuah ruangan tertutup tampak gelap. Itu tempat penyimpanan arsip-arsip suara, video, serta dokumentasi para seniman. Untuk menjaga kelembaban, pendingin ruangan harus menyala 24 jam. Alarm kebakaran juga tersedia di sana. 

Sudah 13 tahun Santosa dikepung ingatan-ingatan itu. Ia seorang petugas perpustakaan sekaligus ruang arsip milik Indonesian Visual Art Archive (IVAA). Sebuah bangunan bercat hijau di gang Hiperkes 188 A-B, Keparakan, Mergangsan, Yogyakarta. 

Sejak 1995, Lembaga pengarsip seni rupa yang dulunya bernama Yayasan Cemeti ini rutin melakukan kerja pengarsipan seni rupa Indonesia. Dalam setahun IVAA mengklaim dapat mengumpulkan sebanyak 12.500 buat foto dan 250 atau sepuluh hari enam jam video, dari 250 rekaman acara seni. Itu pun sudah melalui tahap seleksi. IVAA bahkan disebut-sebut sebagai situs arsip seni rupa pertama di Indonesia. (Baca selengkapnya ...)

Esai

Koleksi Terpenting Perpustakaan Batoe Api adalah Kliping

04.27



Oleh: Satya Adhi

Aku melangkah ke kebun buku mungil di pinggiran Jalan Raya Jatinangor yang macet. Sebuah perpustakaan dengan aroma kertas menembus masker KN95, wangi. Aku kira, ada belasan ribu buku di sini. Tersusun berkelompok sesuai tema meski di rak tak ada kartu petunjuk. Jurnalistik dan ilmu komunikasi, sastra, sejarah Indonesia, gender dan feminisme, tentu masih banyak lagi, tapi yang membuat mataku melotot adalah deretan map tebal di bawah jendela yang menghadap jalan.


Tanpa membuka map-map itu, aku tahu apa isinya. Kliping. Tersusun menurut tiap topik yang dikipling. Sastra dunia, sastra Indonesia, Revolusi Kemerdekaan, G30S & PKI, Pramoedya Ananta Toer, dan banyak lainnya. Aku tarik satu kliping tentang gaya hidup dan posmo, membaca esai Arief Budiman tentang Jakarta, lalu buru-buru memberi vonis: kliping adalah koleksi terpenting perpustakaan Batoe Api. (Baca selengkapnya ...)

Ulasan (Buku)

Sebuah Perjumpaan dengan Eka Kurniawan Si Penulis Muda

09.09



Oleh: Satya Adhi

Oh, senangnya bisa berjumpa seorang penulis muda masa depan sastra Indonesia. Sepuluh cerpennya tercetak di sebuah buku 94 halaman. Terbitan tahun 2000 — tahun yang kata Nasida Ria adalah tahun harapan. Diterbitkan Yayasan Aksara Indonesia yang beradres di Yogyakarta.


Corat-Coret di Toilet tajuk kitabnya. Eka Kurniawan nama penulisnya. Bukan, bukan Eka Kurniawan pengarang empat novel fenomenal sekaligus peraih Prince Claus Award. Setidaknya belum. Ini Eka Kurniawan yang belum kamu lihat sebelumnya.


“Buku yang ada di hadapan pembaca sekarang ini adalah sebuah kumpulan cerita pendek karya seorang penulis muda. Eka Kurniawan, begitu nama penulis ini, setelah menerbitkan buku pertamanya berjudul Pramoedya Ananta Toer dan Sastra Realisme Sosialis … kini memperkenalkan bukunya yang kedua, Corat-Coret di Toilet” (halaman ix).


Penulis muda! Aku membayangkan Eka baru mentas pendidikan dari Fakutas Filsafat UGM, mungkin masih sering ditanya orang tua “mau kerja apa?” lalu nekat saja menerbitkan 10 cerpennya ke buku tipis yang kovernya dibuat sekenanya. Corat-coret betulan. (Baca selengkapnya ....)

Ulasan (Buku)

Babad Perjalanan, Kuliner, dan Erotisisme Dua Raden

12.26


Oleh: Satya Adhi

Aku sering bertanya-tanya, akankah muncul cerita fantasi-kolosal dari Indonesia yang memukau dan benar-benar memikat. Apalagi, akhir-akhir ini aku sedang mengikuti serial House of the Dragon di HBO dan The Lord of the Rings: Rings of Power di Prime Video. Pikirku, karena Indonesia punya sejarah kerajaan-kerajaan masa lampau di kepulauan Nusantara, harusnya kisah-kisah fantasi macam itu sangat mungkin diciptakan.


Pertanyaan itu akhirnya terjawab di buku maha asyik karya Yusi Avianto Pareanom, Raden Mandasia si Pencuri Daging Sapi (selanjutnya disebut Raden Mandasia). Ini pertemuan yang cukup terlambat antara aku dan si buku. Kemasyhuran Raden Mandasia sudah aku dengar sejak berkuliah. Namun entah kenapa tangan dan dompetku belum tergerak untuk membeli-membaca Raden Mandasia waktu itu.


Paman Yusi membagi Raden Mandasia setidaknya menjadi 3 bagian. Bagian pertama menuturkan latar belakang Sungu Lembu dan bagaimana ia bertemu Raden Mandasia. Bagian kedua menceritakan perjalanan Sungu Lembu dan Raden Mandasia ke Gerbang Agung. Kemudian bagian ketiga adalah yang paling raya, ihwal peperangan antara Kerajaan Gilingwesi dan Gerbang Agung.


Di awal buku, yang ada di imajinasiku adalah kisah-kisah ala Angling Dharma dan Saur Sepuh. Ada malam yang keparat, prajurit-prajurit kerajaan berlarian mengejar 2 pencuri yang ternyata sepasang raden berbeda negeri, lengkap dengan imaji tentang kostum, tombak, panah, dan bagaimana para tokoh berbicara dengan bahasa Indonesia baku. (Baca selengkapnya ...)

Ulasan (Buku)

Amalia Yunus Memberi Hak Sejarah untuk Ken Dedes

21.29



Oleh: Satya Adhi

Perempuan dalam dongeng-dongeng tanah Jawa adalah perempuan-perempuan yang tubuhnya dipandang oleh laki-laki. Premisnya serupa, ada perempuan jelita, laki-laki memandangnya, lalu di situlah permasalahan dimulai.


Kita bisa mengambil beberapa contoh dongengan semacam ini. Nawang Wulan yang dilihat Jaka Tarub saat sedang mandi. Roro Jonggrang yang digilai Bandung Bondowoso hingga rela membuat seribu candi untuknya. Dayang Sumbi yang awet muda dan memadu asmara dengan anaknya, Sangkuriang.


Nasib perempuan dalam penulisan sejarah Nusantara yang sering teramat maskulin – terutama di buku-buku pelajaran sekolah – tak berbeda jauh dengan perempuan-perempuan negeri dongeng. Sejumlah prasasti dan kitab yang merekam beberapa tokoh perempuan penting adalah pengecualian. Misalnya, Pramodhawardani yang menjadi salah satu tokoh kunci di balik berdirinya Candi Borobudur dan Candi Prambanan. Kemudian ibu-anak Gayatri Rajapatni dan Tribuwana Tungga Dewi yang kelak membawa kerajaan Majapahit ke puncak kejayaan.


Satu perempuan lainnya dalam masa lalu Nusantara ada di batas antara fiksi dan sejarah. Ialah Ken Dedes, perempuan yang terekam dalam kitab Pararaton sebagai permaisuri Ken Angrok, raja pertama Kerajaan Singasari. Itu pun, Pararaton tak memberi porsi yang layak bagi Dedes dalam penulisannya.

(Baca selengkapnya ....)

Rekaman

Kamila Andini: Dunia Remaja Itu Sulit. Saya Ingin "Yuni" Bisa Sangat Reflektif.

04.44

Foto: Instagram/@kamilandini

Oleh: Satya Adhi

Aku pertama kali menonton Yuni saat pemutaran khusus di Plaza Senayan, Jakarta Pusat, 15 Oktober 2021 lalu. Setelah nonton, aku sempat ngobrol dengan beberapa pemain yang saat itu hadir.


Ngobrol dengan Muhammad Khan (pemeran Iman) di toilet setelah kencing. Wawancara ringkas bersama para pemain geng Yuni. Serta yang paling berkesan, 12 menit wawancara dengan Kamila Andini sang sutradara.


Berikut wawancara lengkap dengan sutradara film peraih Platform Prize di Toronto International Film Festival 2021 itu. (Baca selengkapnya ....)

Ulasan (Film)

Dari Mata Yuni: Dunia dari Sudut Pandang Perempuan Remaja

22.36

Oleh: Satya Adhi

Rhoma Irama bersabda, darah mudanya remaja selalu merasa gagah dan tak mau mengalah. HIVI! bersenandung, tiada masa-masa yang lebih indah dari masa remaja. Namun buat Yuni (Arawinda Kirana) dan batur-batur-nya, masa remaja adalah kala penuh kebingungan, waktu gawat penentu neraka dan surga hidup mereka.


Yuni garapan Kamila Andini dibuka dengan cermat dan tegas. Remaja kelas 12 SMA ini sedang berpakaian menjelang sekolah. Kamera menyorot tubuhnya. Kancut dan kutang ditampakkan seperlunya. Adegannya ringkas, tak mengeksploitasi tubuh perempuan ala sorotan male gaze. 


Dan yang paling penting, adegan pembuka Yuni menyiratkan apa yang film ini mau dongengkan: tentang remaja sekolahan dan tubuhnya. (Baca selengkapnya ....)

Bulu Tangkis

Panggil Aku Tan Joe Hok Saja

02.24

Foto: Ahmad Waheb

Oleh: Satya Adhi

Tan Joe Hok masih perkasa di usia 84. Ingatannya cespleng. Rambutnya belum mau rontok banyak. Hanya jalannya yang agak susah. Kalau mau berdiri dari posisi duduk, ancang-ancangnya bisa 3-4 detik. “Ini karena enggak pernah dilatih, gara-gara pandemi,” katanya sambil menepuk paha.

Tan tinggal bersama anjingnya, Sidney, di sebuah rumah tua di Jakarta Selatan. Medali-medali dan tanda prestasinya ada di lantai atas. Tapi Tan melarangku ke sana. Katanya, becek karena rumah bocor.


Istrinya meninggal 23 tahun silam. Teman-teman seperjuangannya juga telah mangkat. Tan jadi pemain terakhir dari generasi The Magnificent Seven -- tujuh jago bulu tangkis Indonesia perebut Piala Thomas 1958 -- yang masih diberi urip.


(Baca selengkapnya ....)

Bulu Tangkis

Jonatan Christie Tak Perlu Sempurna. Cukuplah Ia Tampil Ciamik di Saat yang Tepat.

18.54


Foto: Badminton Photo Official via BWF

Oleh: Satya Adhi


Kunci juara Indonesia di Thomas Cup 2020 adalah Jonatan Christie. Tanpa bermaksud mengerdilkan peran pemain lain, posisi Jojo memang begitu krusial. 


Kita tahu, sektor tunggal sangat menentukan hasil di kejuaraan beregu putra maupun putri. Tunggal pertama adalah penentu mental bertanding seluruh tim. Tunggal kedua menjadi penentu arah pertandingan -- tim bisa berada di posisi unggul, tertinggal, atau seri saat ia bertanding. Dan tunggal ketiga menentukan hasil pertarungan.


Bulu Tangkis

Bulu Tangkis Indonesia, Terima Kasih!

12.24

Foto: Antara

Oleh: Satya Adhi

Jumat kemarin aku kecewa. Hendra Setiawan dan Mohammad Ahsan kalah dua set dari pasangan Taiwan, Lee Yang/Wang Chi Lin di semifinal. Tak ada emas dari ganda putra. Dan hari itu -- pikirku -- tak ada emas dari bulu tangkis.

Waktu itu, Greysia Polii/Apriyani Rahayu dan Anthony Ginting memang masih berpeluang dapat emas. Masing-masing di nomor ganda putri dan tunggal putra. Namun sebagai penggemar bulu tangkis yang cukup rajin menyimak pertandingan-pertandingan mereka di berbagai turnamen, yang tahu betul bahwa keduanya kerap tak konsisten dan nyaris selalu gagal di semifinal, harapanku ke mereka saat itu setipis kertas tisu.

(Baca selengkapnya ....)

Bulu Tangkis

Dampak Insiden All England 2021: Haruskah Kita Mengkhawatirkan Performa Pemain Indonesia di Olimpiade?

08.37

Foto: Reuters

Oleh: Satya Adhi

ADA satu hal yang luput dibahas pasca insiden All England 2021 kemarin. Yakni tentang dampak insiden tersebut terhadap performa pemain Indonesia di Olimpiade Tokyo Juli 2021 mendatang.


All England 2021 sebenarnya adalah turnamen yang tepat sebagai ajang persiapan menuju Olimpiade. Ia turnamen besar dan bersejarah, cocok buat menguji mental dan fisik pemain kita. Dengan absen di All England, kesempatan ini hilang. “Mesin” para pemain Indonesia pun dipaksa kembali dingin. Ini tentu berdampak ke performa pemain. 


Konten Eksplanatori Favorit yang Saya Bikin Sepanjang 2020

05.52

SEPANJANG 2020, Narasi, media tempat saya bekerja, lebih banyak menugasi saya untuk bikin konten-konten eksplanatori. Ini jenis laporan jurnalisme yang lebih banyak menekankan unsur "why" dan "how." 

Konten eksplanatori itu asyik. Ia mampu mengisi lini masa kita yang agaknya miskin dari konten-konten komprehensif dan berwawasan. Yang lebih seru, konten eksplanatori membuat reporter dan penulisnya dilatih menyampaikan sesuatu yang kompleks secara sederhana.

Saya tak sendirian memproduksi konten-konten tersebut. Saya hanya satu dari sekian rantai produksi yang harus dilalui sebelum konten bisa dinikmati netizen di Instagram, YouTube, dan Twitter. Ada tim riset, desainer grafis, editor video, produser, produser eksekutif, hingga manajer yang memastikan konten-konten Narasi baik secara mutu jurnalistik dan menyenangkan buat ditonton. 

Konten-konten favorit yang saya bikin banyak berkisar pada topik pandemi COVID-19. Sejak wabah ini dilaporkan di Indonesia Maret 2020 lalu, ada periode ketika setiap hari saya bikin konten soal COVID-19. Bosan, iya. Tapi rasa penat seolah hilang kalau saya mendapat jatah bikin konten yang tak melulu berfokus pada wabahnya, tapi sisi lain wabah tersebut.

Mempertimbangkan kedalaman riset yang mungkin dilakukan dalam beberapa jam pembuatan konten, kerapian naskah, serta kualitas produksi, ini 15 konten eksplanatori favorit yang saya bikin sepanjang 2020.

(Baca selengkapnya....)

Esai

Ayah Ajaib Bernama Salman Rushdie

17.30


Salman Rushdie dan Zafar. (Foto: Judith Aronson).

Oleh: Satya Adhi

SANG AYAH memberinya nama: Rushdie, dari Ibnu Rusyd – orang-orang Eropa menyebutnya Averroes – cendekiawan muslim progresif abad 12, dan setiap penamaan adalah wujud kekuasaan; seperti kala Tuhan mengajari Adam nama-nama. Menghapus ketidaktahuan, memberi kuasa atas yang terberi nama.

Barangkali itulah mengapa sang ayah, Anis Ahmed, membenci karya Rushdie yang paling masyhur, Midnight’s Children. Di novel itu, karakter Ahmed Sinai adalah sosok ayah yang tak bergairah, sering keliru mengambil keputusan bisnis yang memberi dampak buruk untuk keluarga, dan – sebuah adegan yang paling diingat – suatu pagi mendaratkan pukulan di telinga kiri anaknya; Saleem Sinai si bocah ajaib, saat Saleem mengatakan ke seisi keluarga: Aku mendengar suara-suara kemarin. Suara yang berbicara kepadaku di dalam kepalaku. Aku kira – Ammi, Abboo, aku benar-benar mengira – Malaikatlah yang berbicara kepadaku. (Baca selengkapnya ....)

Cerpen

Toko Ajaib

06.49

Ilustrasi: Iva Mykhailian (behance.net)
Oleh: H.G. Wells
Penerjemah: Satya Adhi

(Edisi asli pertama kali terbit tahun 1895. Versi ini diterjemahkan dari The Magic Shop dalam Twelve Stories and A Dream yang dipublikasikan Project Gutenberg tahun 2008).


AKU melihat Toko Ajaib beberapa kali dari kejauhan; aku melewatinya satu atau dua kali, sebuah toko yang kaca jendelanya memamerkan benda-benda kecil memikat, bola ajaib, ayam ajaib, kerucut ajaib, boneka ventrilokuis, barang-barang trik sulap keranjang, setumpuk kartu yang TERLIHAT baik, dan barang-barang sejenis itu, tapi tak sekalipun aku tebersit untuk pergi ke sana hingga suatu hari, nyaris tanpa peringatan apapun, Gip menyeret jariku ke kaca jendela toko, dan mengarahkan dirinya untuk masuk ke dalam. Aku tak percaya tempat itu terletak di sana sejujurnya – toko berteras sederhana di Regent Street, di antara toko lukisan dan toko tempat anak-anak ayam berlari keluar dari inkubator, tapi di situlah tokonya. Aku kira ada di dekat Sirkus, atau di pojok sekitar Oxford Street, atau bahkan di Holborn; selalu di tempat semacam itu yang sedikit sulit dijangkau, dengan semacam fatamorgana di lokasinya; tapi tak diragukan lagi di sinilah toko itu, dan ujung telunjuk gemuk Gip membuat suara berisik di permukaan kaca. (Baca selengkapnya ....)

Ulasan (Buku)

"To a God Unknown" (John Steinbeck): Tiada Ilah selain Pohon-pohon

15.36





Oleh: Satya Adhi

DI BANYAK kebudayaan pohon itu sakral, keramat. Orang-orang Jawa memberi sesaji di bawah pohon beringin. Suku anak dalam di Jambi menganggap roh-roh penolong bersemayam di dalam pohon. Masyarakat Kristiani menaruh pohon cemara saat malam kelahiran Kristus.

Joseph Wayne, yang jadi tokoh pusat novel ini, punya semacam iman pada pohon. Tidak sepenuhnya menyembah, tapi ia percaya kalau pohon ek raksasa yang tumbuh di tanah pertaniannya adalah jelmaan roh sang ayah yang telat wafat.

Joseph mengajak pohon itu bicara, memberinya anggur, membiarkan si pohon merengkuh putranya. Terlihat tak ada yang masalah, memang. Namun salah satu saudara Joseph, seorang penganut Kristen yang taat, menganggap Joseph murtad dan berpaling ke berhala. Burton, saudaranya, membuat pohon itu mati. Masih berdiri tegak tapi tak lagi bernyawa. (Baca selengkapnya ....)

Cerpen

Kematian Singkat Seorang Penyamun

22.41


Gambar: Flickr
Oleh: Satya Adhi
SEPOTONG malam, di sini aku akan mati. Jidat langit melompong tanpa gemintang. Gelap. Bubuk tanah hambar tak menguarkan bau. Satu-satunya aroma yang kuhirup memancar dari tubuhku. Anyir.
Dadaku sakit sekali. Merah. Beruntung angin bernapas sejuk. Suara daun-daun tebu bercumbu menenangkan. Udara semacam ini biasa membuatku masuk angin. Tapi kali ini embusannya cukup buat menghibur sakit di dadaku.
Oi! Menyingkir dari kakiku, tikus sialan. Belum saatnya kau makan malam. Menyingkir, kubilang! Asu. Oh, jangkrik … ya, teruslah nembang seperti itu. Para daun, bercumbulah lebih semangat. Rancak. Nah, seperti itu. Tidak, jangan kalian, para tikus! Diam! Kalian merusak tabuhannya.
Ada suara motor berderu. Suaraku tertahan, sial. Tolong … tol …. Keluarkan suara lantangmu wahai tenggorokan terkutuk! Suara motornya menghilang. Aku harus bertahan. Aku akan menunggu motor selanjutnya lewat. Iya, aku akan menunggu.

Rekaman

Soto Trisakti: Semangkuk Kenangan dari Kalilarangan

00.57




 
sumber foto: blog.airyrooms.com
Oleh: Satya Adhi

Soto bening khas Solo yang satu ini ada sejak separuh abad silam. Sakti mandraguna hingga sekarang.
Ada rutinitas wajib di warung kecil di jalan Kalilarangan, Jayengan, Serengan, Solo. Setiap pukul empat pagi, dapur warung akan sibuk mengepulkan asap. Aroma rempah dan daging sapi memekakkan lubang hidung. Menanti disantap para pengunjung yang mulai berdatangan dua jam kemudian.
Meski luas warung cuma seluas setengah lapangan bulutangkis, pengunjung tetap saja berdatangan tak mau henti. Buktinya, dinding hijau warung ini dipenuhi kalender dari ragam usaha yang numpang promosi.
“Kalender-kalender itu juga punya pelanggan sini,” kata Romli, generasi keempat penerus usaha Soto Trisakti, Sabtu (20/1/2018). “Kalau saya mata duitan, sudah saya buat kotak-kotak [penyewaan ruang promosi].”

(Baca selengkapnya...)

Esai

Dari Sensor ke Sensor: Bagaimana Industri Film Korea Bertahan dan Melawan

22.44


Protes di depan sebuah bioskop di Myongdong, Seoul, pada September 1988, terhadap distribusi langsung film Hollywood ke Korea (sumber: popupargusts.blogspot.com).

Oleh: Satya Adhi

Sejarah film Korea adalah sejarah perlawanan. Ini yang jarang dibahas ketika Parasite-nya Bong Joon-ho menjadi film Korea pertama yang raih piala Oscar untuk kategori film terbaik di Academy Awards 2020.

Nyaris semua orang membicarakan bagaimana Parasite sukses membikin sejarah; bagaimana film tersebut akan mengubah lanskap perfilman global. Kita agaknya lupa kalau film sekelas Parasite tak mungkin lahir dari situasi sosial-politik yang biasa-biasa saja.

Korea -- seperti negara dunia ketiga lainnya -- punya sejarah panjang tentang represi dan sensor terhadap karya seni. Mengetahui bagaimana para produser dan pembuat fIlm Korea merespons kebijakan penguasa dari masa ke masa, akan membantu kita melihat apa yang tak tampak di layar sinema.

Korea di Bawah Rezim Sensor

Industrialisasi sinema Korea setidaknya bisa dilihat sejak 1960-an, saat rezim militer Park Chung-hee berkuasa. Di tengah hubungan yang panas dengan Korea Utara pasca perang 1950-1953, pemerintah Korea tak berminat tumbuhkan industri sinema yang semata datangkan cuan.

Esai

Han Kang Berbisik Pertanyaan

05.59



gambar: s3-ap-southeast-2.amazonaws.com


“Ia tidak percaya manusia. Wajah, fakta, dan kalimat semanis apa pun tidak dapat dipercaya. Ia tahu harus keluar dari dalam pertanyaan-pertanyaan dingin dan rasa curiga yang kental” 
(Mata Malam, 2017: 115).

Seoul, Korea Selatan, 1982. Di sebuah malam musim panas yang gerah, seorang gadis kecil membuka selembar halaman buku yang belum selesai dari sejarah negaranya. Bukan hanya belum selesai. Halaman hitam itu tengah ditulis oleh seorang presiden keji, juga derap sepatu para serdadu, kepalan tangan para pelajar, dan air mata setiap Ibu yang anaknya tak berkabar berhari-hari.

Han Kang, gadis 12 tahun yang kepalanya ditumbuki banyak pertanyaan, merangkak naik ke rak buku ayahnya ketika seisi rumah tengah menonton teve di dapur. Diam-diam ia meraih sebuah album foto yang dibeli ayahnya di terminal Gwangju – kota yang terhampar 268 km di sebelah selatan Seoul. Celaka. Han Membuka album terkutuk itu.

“Aku ingat ketika membuka halaman terakhir album itu, ketika aku melihat wajah anak perempuan yang tubuhnya hancur akibat tusukan pedang yang dalam. Suatu bagian yang lembut di dalam diriku, yang sebelumnya tidak kusadari ada di sana, pecah tanpa suara” (Han Kang, 2017: 235). (Baca selengkapnya...)

Like us on Facebook