Cerpen

Toko Ajaib

06.49

Ilustrasi: Iva Mykhailian (behance.net)
Oleh: H.G. Wells
Penerjemah: Satya Adhi

(Edisi asli pertama kali terbit tahun 1895. Versi ini diterjemahkan dari The Magic Shop dalam Twelve Stories and A Dream yang dipublikasikan Project Gutenberg tahun 2008).


AKU melihat Toko Ajaib beberapa kali dari kejauhan; aku melewatinya satu atau dua kali, sebuah toko yang kaca jendelanya memamerkan benda-benda kecil memikat, bola ajaib, ayam ajaib, kerucut ajaib, boneka ventrilokuis, barang-barang trik sulap keranjang, setumpuk kartu yang TERLIHAT baik, dan barang-barang sejenis itu, tapi tak sekalipun aku tebersit untuk pergi ke sana hingga suatu hari, nyaris tanpa peringatan apapun, Gip menyeret jariku ke kaca jendela toko, dan mengarahkan dirinya untuk masuk ke dalam. Aku tak percaya tempat itu terletak di sana sejujurnya – toko berteras sederhana di Regent Street, di antara toko lukisan dan toko tempat anak-anak ayam berlari keluar dari inkubator, tapi di situlah tokonya. Aku kira ada di dekat Sirkus, atau di pojok sekitar Oxford Street, atau bahkan di Holborn; selalu di tempat semacam itu yang sedikit sulit dijangkau, dengan semacam fatamorgana di lokasinya; tapi tak diragukan lagi di sinilah toko itu, dan ujung telunjuk gemuk Gip membuat suara berisik di permukaan kaca. (Baca selengkapnya ....)

Cerpen

Kematian Singkat Seorang Penyamun

22.41


Gambar: Flickr
Oleh: Satya Adhi
SEPOTONG malam, di sini aku akan mati. Jidat langit melompong tanpa gemintang. Gelap. Bubuk tanah hambar tak menguarkan bau. Satu-satunya aroma yang kuhirup memancar dari tubuhku. Anyir.
Dadaku sakit sekali. Merah. Beruntung angin bernapas sejuk. Suara daun-daun tebu bercumbu menenangkan. Udara semacam ini biasa membuatku masuk angin. Tapi kali ini embusannya cukup buat menghibur sakit di dadaku.
Oi! Menyingkir dari kakiku, tikus sialan. Belum saatnya kau makan malam. Menyingkir, kubilang! Asu. Oh, jangkrik … ya, teruslah nembang seperti itu. Para daun, bercumbulah lebih semangat. Rancak. Nah, seperti itu. Tidak, jangan kalian, para tikus! Diam! Kalian merusak tabuhannya.
Ada suara motor berderu. Suaraku tertahan, sial. Tolong … tol …. Keluarkan suara lantangmu wahai tenggorokan terkutuk! Suara motornya menghilang. Aku harus bertahan. Aku akan menunggu motor selanjutnya lewat. Iya, aku akan menunggu.

Like us on Facebook