Oleh: Satya Adhi dan Vera Safitri Betapa sempit ruang ingatan yang tersisa buat seni budaya kontemporer di Indonesia. Di Gang Sempit 188 A/B Wajah Santosa dibanjiri keringat. Ia baru saja pulang usai membeli makan siang ketika seorang perempuan usia 20-an tahun menghampirinya. Si perempuan datang bersama seorang lelaki. Mereka terlihat seumuran. Keduanya menanyakan salah satu arsip untuk keperluan penelitian yang tengah dikerjakan. Kepungan kertas-kertas, buku, dan arsip membikin ruangan itu makin gerah. Meski luasnya hanya setara lapangan futsal, ada puluhan ribu ingatan seni rupa Indonesia tersimpan di situ. Wajar jika Santosa makin membulirkan keringat. Di lantai dua, tepat di pojok, sebuah ruangan tertutup tampak gelap. Itu tempat penyimpanan arsip-arsip suara, video, serta dokumentasi para seniman. Untuk menjaga kelembaban, pendingin ruangan harus menyala 24 jam. Alarm kebakaran juga tersedia di sana. Sudah 13 tahun Santosa dikepung ingatan-ingatan itu. Ia seorang petugas perpustakaan sekaligus ruang arsip milik Indonesian Visual Art Archive (IVAA). Sebuah bangunan bercat hijau di gang Hiperkes 188 A-B, Keparakan, Mergangsan, Yogyakarta. Sejak 1995, Lembaga pengarsip seni rupa yang dulunya bernama Yayasan Cemeti ini rutin melakukan kerja pengarsipan seni rupa Indonesia. Dalam setahun IVAA mengklaim dapat mengumpulkan sebanyak 12.500 buat foto dan 250 atau sepuluh hari enam jam video, dari 250 rekaman acara seni. Itu pun sudah melalui tahap seleksi. IVAA bahkan disebut-sebut sebagai situs arsip seni rupa pertama di Indonesia. (Baca selengkapnya ...)
| Foto: Instagram/@kamilandini |
Oleh: Satya Adhi
Aku pertama kali menonton Yuni saat pemutaran khusus di Plaza Senayan, Jakarta Pusat, 15 Oktober 2021 lalu. Setelah nonton, aku sempat ngobrol dengan beberapa pemain yang saat itu hadir.
Ngobrol dengan Muhammad Khan (pemeran Iman) di toilet setelah kencing. Wawancara ringkas bersama para pemain geng Yuni. Serta yang paling berkesan, 12 menit wawancara dengan Kamila Andini sang sutradara.
Berikut wawancara lengkap dengan sutradara film peraih Platform Prize di Toronto International Film Festival 2021 itu. (Baca selengkapnya ....)
Oleh: Satya Adhi
Soto bening khas Solo yang satu ini ada sejak separuh abad silam.
Sakti mandraguna hingga sekarang.
Ada
rutinitas wajib di warung kecil di jalan Kalilarangan, Jayengan, Serengan,
Solo. Setiap pukul empat pagi, dapur warung akan sibuk mengepulkan asap. Aroma
rempah dan daging sapi memekakkan lubang hidung. Menanti disantap para
pengunjung yang mulai berdatangan dua jam kemudian.
Meski
luas warung cuma seluas setengah lapangan bulutangkis, pengunjung tetap saja
berdatangan tak mau henti. Buktinya, dinding hijau warung ini dipenuhi kalender
dari ragam usaha yang numpang promosi.
“Kalender-kalender
itu juga punya pelanggan sini,” kata Romli, generasi keempat penerus usaha Soto
Trisakti, Sabtu (20/1/2018). “Kalau saya mata duitan, sudah saya buat kotak-kotak
[penyewaan ruang promosi].”
(Baca selengkapnya...)
(Baca selengkapnya...)
![]() |
| Paiman Hadi Supadmo membuka buku catatannya selama di Pulau Buru (Foto: Panji Satrio) |
Oleh: Satya Adhi & Vera Safitri
DI
RUMAH Paiman,
orang-orang berdatangan hampir tiap hari. Rumah yang sederhana itu jadi terasa
mewah. Bikin tak terasa kalau lantainya cuma cor semen dan dindingnya belum
dicat. Karena ternit belum terpasang, deretan genteng juga langsung terlihat
dari dalam rumah.
“Kalau ada tamu naik bus ke tempatmu itu pada ngapain?” Tanya seorang tetangga.
“Kalau ada tamu ke sana saja,” jawab Paiman.
“Isin.”
“Lha, kenapa isin? Ke rumahnya orang yang enggak ke sekolah, kok, isin.”
Maklum kalau para tetangga heran. Paiman bukan pejabat desa atau
tokoh agama lokal. Ia hanya petani 78 tahun yang duitnya tak seberapa. Sekolah
sampai tinggi juga tidak pernah. Satu-satunya hal yang membikin orang
mendatangi Paiman adalah masa lalunya. Masa lalu yang masih dia ingat dengan
baik, meski banyak yang coba melenyapkan ingatan itu jauh-jauh.
Orang-orang yang datang ke rumah Paiman biasa mengisi buku tamu.
Buku itu tergeletak di atas meja di ruang tamu. Tergeletak bersama ceret berisi
teh dan beberapa gelas kaca. Isinya nama-nama orang. Mirip buku presensi
yang dibacakan guru-guru SD pada mula jam sekolah.
Sampai sekarang sudah tiga jilid buku yang terpakai. Nama-nama
di dalamnya beragam. Tokoh-tokoh masyarakat, ada. Tentara, ada. Polisi, ada.
Wakil rakyat yang kini meringkuk di sel rasuah pun, ada. Semuanya terdata rapi
di situ.
Saban hari, buku tamu Paiman terus terisi. Kadang tamunya datang
sendiri, ada juga yang naik bus bersama rombongan. Tokoh-tokoh setempat datang
bertukar cerita. Aparat polisi datang mengintai keadaan. Sementara para
politisi jadi lebih sering sowan kalau
masa-masa kampanye telah tiba. (Baca selengkapnya...)
Sialan. Suaramu itu membuat seratusan orang
terhenyak. Mereka, yang baru saja membeli bukumu seharga 59 ribu, dipaksa
menahan napas.
Kau melanjutkan celoteh. “Sastra Indonesia,
pemikiran Indonesia sejak Kartini sampai ’65 tidak diajarkan di sekolah-sekolah
menengah. Apakah memang saat ini pun Indonesia masih tidak hadir di Bumi
Manusia?”
Hari itu, 12 Agustus 2017, para hadirin di Galeri Cipta III, Taman Ismail Marzuki, Jakarta - termasuk aku - akan dipaksa
bertanya-tanya. “Siapa yang berdosa?”; “apakah yang tidak berdosa otomatis
suci?”; “mengapa Indonesia tidak hadir di Bumi Manusia?”; “bagaimana cara menghadirkannya?”
Orang yang sudah membaca buku kumpulan esaimu
akan tahu jawababannya.
Mereka bakal tahu kalau Adam Malik pernah
berkata bahwa Tetralogi Pulau Buru sebaiknya jadi bacaan wajib buat semua pelajar
sekolahan. Saat itu Adam Malik menjabat Wakil Presiden. Sayang, perkataannya
tak pernah jadi ujud. (Baca selengkapnya)

