Ulasan (Film)

Dari Mata Yuni: Dunia dari Sudut Pandang Perempuan Remaja

22.36

Oleh: Satya Adhi

Rhoma Irama bersabda, darah mudanya remaja selalu merasa gagah dan tak mau mengalah. HIVI! bersenandung, tiada masa-masa yang lebih indah dari masa remaja. Namun buat Yuni (Arawinda Kirana) dan batur-batur-nya, masa remaja adalah kala penuh kebingungan, waktu gawat penentu neraka dan surga hidup mereka.


Yuni garapan Kamila Andini dibuka dengan cermat dan tegas. Remaja kelas 12 SMA ini sedang berpakaian menjelang sekolah. Kamera menyorot tubuhnya. Kancut dan kutang ditampakkan seperlunya. Adegannya ringkas, tak mengeksploitasi tubuh perempuan ala sorotan male gaze


Dan yang paling penting, adegan pembuka Yuni menyiratkan apa yang film ini mau dongengkan: tentang remaja sekolahan dan tubuhnya. (Baca selengkapnya ....)

Ulasan (Film)

Contek-mencontek Menjadi Satu, Itulah Sekolahan

18.14

sumber: amiratthemovies.wordpress.com
Oleh: Satya Adhi

Judul               : Bad Genius
Sutradara       : Nattawut Poonpiriya
Pemain           : Chutimon Chuengcharoensukying, Chanon Santinatornkul, Teeradon Supapunpinyo
Tahun Rilis     : 2017
Durasi             : 130 menit
Skor                : 8,5 / 10

Awas! Film ini berisi adegan-adegan mencontek yang inspiratif untuk trik-trik mencontek yang lebih kreatif. Butuh kedewasaan pikir buat menonton.

FILM THAILAND pertama-tama digemari di Indonesia karena kisah cinta ABG SMA-nya. Saya yakin, film-film macam Suckseed (Chayanop Boonprakob, 2011) dan Crazy Little Thing Called Love (Puttipong Pormsaka, 2010) adalah gerbang utama sebagian besar penonton Indonesia ke jagat sinema Thailand.

Bad Genius – seperti kebanyakan film Thailand favorit penonton Indonesia – memang berlatar kehidupan SMA di sana. Tapi premis utamanya bukan seorang siswa yang jatuh cinta pada seorang siswi kemudian hubungan mereka dikemas dalam komedi kocak yang bikin ngakak. Bad Genius adalah film thriller-kritis soal pendidikan.

Di sebuah SMA kelas atas, Lynn (Chutimon Chuengcharoensukying), dikisahkan sebagai seorang siswi baru nan cerdas, baru saja pindah ke sekolah tersebut. Alasannya agar bisa mendapat pendidikan yang lebih berkualitas, meski kocek yang dirogoh juga jadi lebih menguras. Lynn digambarkan sebagai karakter yang benar-benar menguasai semua mata pelajaran, seakan punya kejeniusan dalam gennya. (Baca selengkapnya...)

Ulasan (Film)

"Dukhtar": Kawin? Lari!

16.00

Sumber gambar: browngirlmagazine.com
Oleh: Satya Adhi


Judul Film       : Dukhtar
Sutradara       : Afia Serena Nathaniel
Pemain           : Samiya Mumtaz, Saleha Aref, Mohib Mirza
Tahun Rilis     : 2014
Durasi             : 93 menit
Skor                : 6/10

TANPA RISET mendalam dan terukur, saya berani mengatakan bahwa mayoritas bocah di Indonesia pertama kali tahu soal seks bukan dari orang tua. Barangkali mereka mendapatkannya dari pelajaran sekolah, pelajaran agama di luar sekolah, atau, yang paling sering saya dengar dan alami, lewat pornografi.

Jauh dari Indonesia, di sebuah pedalaman pegunungan Pakistan sana, Allah Rakhi (Samiya Mumtaz) – yang berarti ‘Allah Melindungi’ – seorang ibu muda tak berpendidikan formal, sudah punya rasa sadar untuk memberi pendidikan seks kepada putrinya, Zainab (Saleha Aref).

Suatu hari, Allah Rakhi mengajak Zainab ke gudang bawah tanah. Ia kemudian mengambil selembar kain yang sudah disimpan turun temurun. “Ini kain dari malam perkawinan Ibu,” kata Allah Rakhi.

Melihat kain yang ternoda bercak darah kemerahan, Zainab bertanya penasaran. “Darah siapa ini?”

“Darah Ibu. Darah nenekmu. Darah neneknya nenekmu.” (Baca selengkapnya...)

Ulasan (Film)

Revolusi dari Balik Kemudi Taksi

11.19



Oleh: Satya Adhi

Judul Film       : A Taxi Driver
Sutradara       : Jang Hoon
Pemain           : Song Kang-Ho, Thomas Krethscmann, Ryu Jun-Yeol, Yoo Hae-Jin
Tahun Rilis     : Agustus 2017
Durasi             : 137 menit
Skor                 : 8/10

DI KOTA, mobil adalah rumah. Dari dalam rumah, penghuni mobil melihat kehidupan kota bergerak keterlaluan cepat. Kadang roda mobil terhambat kemacetan berjam-jam di jalanan. Rumah-rumah pun bisa capek kalau dipaksa bekerja terus.

Kim Sa-Bok (Song Kang-Ho) punya rumah berjalan semacam itu. Tapi dia bukan jenis warga kelas atas yang punya kuasa atas mobilnya sendiri. Kim Sa-Bok cuma sopir taksi yang harus nurut ke mana penumpang akan pergi. Dia berusaha kerja keras untuk membahagiakan putri semata wayangnya, Eun Jong (Yoo Eun-Mi). Maka, penonton bisa maklum kalau uang jadi incaran utama Kim sepanjang waktu.

Siapa sangka, dari dalam rumah, Kim bersua Jurgen Hinzpeter (Thomas Kretschmann), jurnalis teve Jerman yang hendak meliput aksi protes di Gwangju. “So I start a revolution from my bed,” kata Oasis. Kim dan Hinzpeter agak berbeda dari Liam dan Noel Galagher, dkk, tapi peran yang mereka mainkan dalam revolusi demokrasi Gwangju 1980 tak bisa dianggap enteng. Mereka memulai revolusi dari balik kemudi taksi. (Baca selengkapnya...)

Ulasan (Film)

Memenangkan Perang dengan Sinema

02.26




Oleh: Satya Adhi

Judul Film       : Their Finest
Sutradara       : Lone Scherfig
Pemeran         : Gemma Arteton, Sam Claflin, Bill Nighy
Tahun Rilis     : 2016
Durasi             : 1 jam 56 menit
Genre              : Drama, sejarah
Skor                : 7/10

MEMENANGKAN perang tidak cuma diusahakan dengan tembakan mitraliur dan pengiriman pasukan buat merebut kota. Perang juga harus memenangkan perasaan warga. Bujuk rayu yang bertenaga pun dikerahkan melalui sinema.

Di tahun 1940, pemerintah Inggris yang berencana ikut urun dalam kekacauan Perang Dunia II menyadari betul hal ini. Inggris butuh film propaganda perang yang memuat dua hal utama: original dan membangkitkan optimisme penonton. Setelah kegagalan film-film propaganda sebelumnya, Catrin Cole (Gemma Arteton), seorang mantan penulis iklan, digaji dua pounds per minggu oleh Kementrian Informasi untuk menulis naskah film yang lebih ampuh. (Baca selengkapnya...)

Like us on Facebook