Milenial Merayakan Buku
18.33![]() |
| Solopos, 14 Desember 2017 |
DI HINDIA BELANDA, kehadiran buku dalam foto kira-kira terjadi pada awal abad 20. Kita bisa menyaksikannya dalam buku keluaran penerbit buku Islam mahsyur Solo, AB Sitti Sjamsijah, yang menerbitkan buku berjudul Agama dan Pengetahoean. Godsdienst en Wetenschap garapan Voorziter (Ketua) Moehammadijah Soerakarta, Kyai Moechtar Boechary. Buku itu terbit tahun 1927.
Aku menemui
buku itu di perpustaakaan Bilik Literasi ketika menggarap majalah Kentingan awal tahun ini. Buku terkesan mewah karena sampul depan
memajang foto hitam putih seorang lelaki muda. Ia berblangkon, memakai setelan
jas ala Eropa, dan berkain jarit. Yang dahsyat, ia berfoto dalam pose duduk
sambil memangku benda magis penghimpun kata-kata: buku!
Perkiraanku
atas kehadiran foto dalam buku disebabkan dua hal. Pertama, teknologi kamera
foto hadir di Hindia Belanda pada pertengahan abad 19. Candi Borobudur menjadi objek
foto komersial pertama kali di Hindia pada 1845 (Anderson, 2008: 274). Kemudian
gairah intelektual mengalir deras pada akhir abad 19 hingga awal abad 20,
terlebih setelah pemerintah kolonial Belanda mengeluarkan kebijakan Politik
Etis pada 1901.
Sebagai simbol
utama ilmu pengetahuan dan intelektualitas, buku adalah benda yang wajib ada di
setiap ruangan manusia Hindia yang mengaku ngintelek.
Berkat teknologi kamera foto, buku yang selesai dibaca bisa dirayakan dengan
cara lain. Dirayakan sebagai properti pose foto kaum intelektual Hindia abad
20.
Kebiasan ini
berlanjut hingga awal abad 21. Buku – baik yang benar-benar buku atau hanya
gambar buku – hadir di setiap seremonial wisuda di kampus-kampus seluruh
Indonesia. Mahasiswa yang rakus membaca sampai yang emoh membaca, hampir pasti
akan berfoto dengan latar belakang buku. Bisa bersama orang tua, adik-kakak,
kekasih, atau gandengan bayaran. (Baca Selengkapnya...)
Meski ruang
tamu tak tentu berisi timbunan buku, foto berlatar buku akan hadir di
ruang-ruang tamu keluarga. Semakin banyak foto toga dan buku, semakin tinggi
taraf ngintelek-tual sebuah keluarga.
Aku jadi maklum
dan tahu kalau memotret buku atau berfoto bersama buku bukan barang baru di
tanah Hindia. Kita tak perlu nyinyir terhadap warganet ngintelek zaman now yang
gemar berpose bersama buku. Lebih aman berbaik sangka kalau buku-buku yang
hadir di setiap bingkai foto warganet, adalah buku-buku yang akan atau sudah
habis mereka baca. Dan mengunggah foto buku di media sosial menjadi perayaan mereka
atas aktivitas membaca, juga sebagai ajang dakwah agar warganet yang lain ikut
membaca.
Kehadiran
foto buku di jagat maya menuntut para penggarap, distributor, sampai pedagang
buku kasta terendah putar otak. Para penggarap buku akan merancang sampul foto
yang nikmat dibuat swafoto. Buku-buku lawas bersampul lusuh jelas bukan santapan
swafoto yang lezat. Para distributor dan pedagang buku akan begerilya
mengunggah foto-foto buku yang memancing mata untuk membeli.
Bahkan, ada
juga akun dagang buku yang memajang model sebagai sarana promosi buku. Akun
Instagram @paperplanetbookstore misalnya, sering mengunggah foto para model
menarik (dan pasti cewek) yang tengah membaca, menenteng, atau memamerkan buku
dagangan. Kalau foto ku tap sekali,
akan muncul tautan ke akun si model. Jadilah kegiatan belanja buku berlanjut ke
kegiatan stalking, dan kalau
beruntung, perkenalan dengan cewek yang lihai berpose dengan buku. Ini adalah
pengejawantahan mutakhir kalimat promosi Susano Book; “aku dan kamu bertemu
karena buku.”
Kenyataan
jagat maya membuat perayaan buku semakin riuh oleh gambar. Kita tak lagi harus
berpeluh-peluh berjalan ke toko buku, berebut buku dengan sesama pembaca di
acara obral buku, juga bersin-bersin berkat ruapan debu di kios buku lawas. Sekarang,
belanja buku bukanlah aktivitas kaki dan hidung. Sekarang, belanja buku adalah
aktivitas jempol dan mata.
Hari Belanja (Buku) Online Nasional
Aku cukup
sering merayakan buku dengan jempol dan mata. Tapi 12 Desember kemarin (12/12),
aku melakukan perayaan buku yang lebih radikal dan berisiko.
Semua gara-gara Hari Belanja Online Nasional (Harbolnas), pegelaran yang pertama kali dihelat 2012 silam. Sejak itu, tanggal 12/12 selalu dirayakan sebagai ajang jual-beli besar-besaran di jagat maya. Toko-toko buku daring menjadi sebagian kecil dari penghuni jagat anarki yang ikut bepartisipasi dalam Harbonas.
Sejak
jauh-jauh hari aku sudah mengantisipasi pengeluaran radikal akibat Harbolnas. Apalagi
aku mendapat kabat kalau toko gramedia.com mematok diskon 50 persen untuk
seluruh produk buku di tokonya. Brengseknya lagi, aku tidak perlu membayar
ongkos kirim karena sudah digratiskan.
Bersama dua
orang kawan, aku mendata buku-buku yang akan kami beli. Kami tidak perlu
susah-susah ke toko buku atau mencari terlebih dulu di katalog. Tinggal ketik
saja buku-buku yang dirindu di kolom pencarian, sampai akhirnya terhimpun 27
buku yang ingin kami miliki seutuhnya. Semua kami lakukan tengah malam sejak
Harbolnas dimulai pukul 00.00 WIB. Kalau kesiangan, bisa-bisa server gramedia.com down, buku yang kami rindu habis, atau antre ATM makin berjibun.
Meski untuk makan
sehari-hari saja masih terbatas, kami nekat sok kaya. Belanja buku di ranah
daring mewujud sabda tersendiri. Dari mata turun ke jempol, dari jempol turun
ke dompet.
Harbolnas memang keparat! Anna Karenina-nya Leo Tolstoi yang sampulnya digarap dengan memikat oleh Kepustakaan Populer Gramedia (KPG) “cuma” dihargai 62.500 rupiah. Never Let Me Go-nya Kazuo Ishigoro yang baru saja menang Nobel Sastra tahun ini, bisa ditebus dengan 39.500 rupiah.
Lalu In Cold Blood-nya Truman Capote yang
baru saja diterbitkan ulang oleh Bentang Juli 2017 kemarin, turun harga menjadi
44.500 rupiah. Belum lagi novel unyu nan
menyegarkan mata garapan Nina George, The
Little Paris Bookshop, hanya dibandrol dengan harga 47.500 rupiah. Terbayang
sudah tumpukan buku di kamar indekosku akan semakin meninggi. Nantinya aku bisa
menyewakan buku-buku nyataku sebagai latar wisuda para sarjana kampus.
Aku jadi
teringat betapa susahnya Sultan Khan, saudagar buku dari Afghanistan, untuk
merayakan buku. Untuk berdagang buku, ia harus menyeberang ke Pakistan lewat
jalur tidak resmi. Berjibaku di lereng gunung tandus demi menyelundupan
buku-buku terlarang di sana. Buku bukan hanya penghimpun kata-kata. Buku adalah
keseluruhan hidup Sultan Khan – meski aku curiga ia tak sempat berfoto bersama
buku sepanjang hidupnya.
“Tidak
banyak hal yang bisa memikat hati Sultan selain menemukan buku berharga di
pasar yang berdebu dan membelinya dengan harga sangat murah. Sultan berpendapat
bahwa ia memiliki koleksi buku paling kaya di dunia tentang Afghanistan, yang
meliputi sekitar delapan atau seribu jilid” (Seierstand, 2005: 118). Aku yang
sok kaya mendadak merasa miskin.
Kini aku dan
kawan-kawan telah dikirimi buku-buku belanjaan hasil keserakahan intelektuil
kami. Sebagai pertanggungjawaban setelah buku-buku kami terima, perayaan akan
berlanjut ke pembacaan, penulisan, dan tentunya, pemotretan buku. Cekrek![]

0 komentar