Aku sering bertanya-tanya, akankah muncul cerita fantasi-kolosal dari Indonesia yang memukau dan benar-benar memikat. Apalagi, akhir-akhir ini aku sedang mengikuti serial House of the Dragon di HBO dan The Lord of the Rings: Rings of Power di Prime Video. Pikirku, karena Indonesia punya sejarah kerajaan-kerajaan masa lampau di kepulauan Nusantara, harusnya kisah-kisah fantasi macam itu sangat mungkin diciptakan.
Pertanyaan itu akhirnya terjawab di buku maha asyik karya Yusi Avianto Pareanom, Raden Mandasia si Pencuri Daging Sapi (selanjutnya disebut Raden Mandasia). Ini pertemuan yang cukup terlambat antara aku dan si buku. Kemasyhuran Raden Mandasia sudah aku dengar sejak berkuliah. Namun entah kenapa tangan dan dompetku belum tergerak untuk membeli-membaca Raden Mandasia waktu itu.
Paman Yusi membagi Raden Mandasia setidaknya menjadi 3 bagian. Bagian pertama menuturkan latar belakang Sungu Lembu dan bagaimana ia bertemu Raden Mandasia. Bagian kedua menceritakan perjalanan Sungu Lembu dan Raden Mandasia ke Gerbang Agung. Kemudian bagian ketiga adalah yang paling raya, ihwal peperangan antara Kerajaan Gilingwesi dan Gerbang Agung.
Di awal buku, yang ada di imajinasiku adalah kisah-kisah ala Angling Dharma dan Saur Sepuh. Ada malam yang keparat, prajurit-prajurit kerajaan berlarian mengejar 2 pencuri yang ternyata sepasang raden berbeda negeri, lengkap dengan imaji tentang kostum, tombak, panah, dan bagaimana para tokoh berbicara dengan bahasa Indonesia baku. (Baca selengkapnya ...)





