Esai

Han Kang Berbisik Pertanyaan

05.59



gambar: s3-ap-southeast-2.amazonaws.com


“Ia tidak percaya manusia. Wajah, fakta, dan kalimat semanis apa pun tidak dapat dipercaya. Ia tahu harus keluar dari dalam pertanyaan-pertanyaan dingin dan rasa curiga yang kental” 
(Mata Malam, 2017: 115).

Seoul, Korea Selatan, 1982. Di sebuah malam musim panas yang gerah, seorang gadis kecil membuka selembar halaman buku yang belum selesai dari sejarah negaranya. Bukan hanya belum selesai. Halaman hitam itu tengah ditulis oleh seorang presiden keji, juga derap sepatu para serdadu, kepalan tangan para pelajar, dan air mata setiap Ibu yang anaknya tak berkabar berhari-hari.

Han Kang, gadis 12 tahun yang kepalanya ditumbuki banyak pertanyaan, merangkak naik ke rak buku ayahnya ketika seisi rumah tengah menonton teve di dapur. Diam-diam ia meraih sebuah album foto yang dibeli ayahnya di terminal Gwangju – kota yang terhampar 268 km di sebelah selatan Seoul. Celaka. Han Membuka album terkutuk itu.

“Aku ingat ketika membuka halaman terakhir album itu, ketika aku melihat wajah anak perempuan yang tubuhnya hancur akibat tusukan pedang yang dalam. Suatu bagian yang lembut di dalam diriku, yang sebelumnya tidak kusadari ada di sana, pecah tanpa suara” (Han Kang, 2017: 235). (Baca selengkapnya...)

Ulasan (Film)

Contek-mencontek Menjadi Satu, Itulah Sekolahan

18.14

sumber: amiratthemovies.wordpress.com
Oleh: Satya Adhi

Judul               : Bad Genius
Sutradara       : Nattawut Poonpiriya
Pemain           : Chutimon Chuengcharoensukying, Chanon Santinatornkul, Teeradon Supapunpinyo
Tahun Rilis     : 2017
Durasi             : 130 menit
Skor                : 8,5 / 10

Awas! Film ini berisi adegan-adegan mencontek yang inspiratif untuk trik-trik mencontek yang lebih kreatif. Butuh kedewasaan pikir buat menonton.

FILM THAILAND pertama-tama digemari di Indonesia karena kisah cinta ABG SMA-nya. Saya yakin, film-film macam Suckseed (Chayanop Boonprakob, 2011) dan Crazy Little Thing Called Love (Puttipong Pormsaka, 2010) adalah gerbang utama sebagian besar penonton Indonesia ke jagat sinema Thailand.

Bad Genius – seperti kebanyakan film Thailand favorit penonton Indonesia – memang berlatar kehidupan SMA di sana. Tapi premis utamanya bukan seorang siswa yang jatuh cinta pada seorang siswi kemudian hubungan mereka dikemas dalam komedi kocak yang bikin ngakak. Bad Genius adalah film thriller-kritis soal pendidikan.

Di sebuah SMA kelas atas, Lynn (Chutimon Chuengcharoensukying), dikisahkan sebagai seorang siswi baru nan cerdas, baru saja pindah ke sekolah tersebut. Alasannya agar bisa mendapat pendidikan yang lebih berkualitas, meski kocek yang dirogoh juga jadi lebih menguras. Lynn digambarkan sebagai karakter yang benar-benar menguasai semua mata pelajaran, seakan punya kejeniusan dalam gennya. (Baca selengkapnya...)

Ulasan (Film)

"Dukhtar": Kawin? Lari!

16.00

Sumber gambar: browngirlmagazine.com
Oleh: Satya Adhi


Judul Film       : Dukhtar
Sutradara       : Afia Serena Nathaniel
Pemain           : Samiya Mumtaz, Saleha Aref, Mohib Mirza
Tahun Rilis     : 2014
Durasi             : 93 menit
Skor                : 6/10

TANPA RISET mendalam dan terukur, saya berani mengatakan bahwa mayoritas bocah di Indonesia pertama kali tahu soal seks bukan dari orang tua. Barangkali mereka mendapatkannya dari pelajaran sekolah, pelajaran agama di luar sekolah, atau, yang paling sering saya dengar dan alami, lewat pornografi.

Jauh dari Indonesia, di sebuah pedalaman pegunungan Pakistan sana, Allah Rakhi (Samiya Mumtaz) – yang berarti ‘Allah Melindungi’ – seorang ibu muda tak berpendidikan formal, sudah punya rasa sadar untuk memberi pendidikan seks kepada putrinya, Zainab (Saleha Aref).

Suatu hari, Allah Rakhi mengajak Zainab ke gudang bawah tanah. Ia kemudian mengambil selembar kain yang sudah disimpan turun temurun. “Ini kain dari malam perkawinan Ibu,” kata Allah Rakhi.

Melihat kain yang ternoda bercak darah kemerahan, Zainab bertanya penasaran. “Darah siapa ini?”

“Darah Ibu. Darah nenekmu. Darah neneknya nenekmu.” (Baca selengkapnya...)

Ulasan (Film)

Revolusi dari Balik Kemudi Taksi

11.19



Oleh: Satya Adhi

Judul Film       : A Taxi Driver
Sutradara       : Jang Hoon
Pemain           : Song Kang-Ho, Thomas Krethscmann, Ryu Jun-Yeol, Yoo Hae-Jin
Tahun Rilis     : Agustus 2017
Durasi             : 137 menit
Skor                 : 8/10

DI KOTA, mobil adalah rumah. Dari dalam rumah, penghuni mobil melihat kehidupan kota bergerak keterlaluan cepat. Kadang roda mobil terhambat kemacetan berjam-jam di jalanan. Rumah-rumah pun bisa capek kalau dipaksa bekerja terus.

Kim Sa-Bok (Song Kang-Ho) punya rumah berjalan semacam itu. Tapi dia bukan jenis warga kelas atas yang punya kuasa atas mobilnya sendiri. Kim Sa-Bok cuma sopir taksi yang harus nurut ke mana penumpang akan pergi. Dia berusaha kerja keras untuk membahagiakan putri semata wayangnya, Eun Jong (Yoo Eun-Mi). Maka, penonton bisa maklum kalau uang jadi incaran utama Kim sepanjang waktu.

Siapa sangka, dari dalam rumah, Kim bersua Jurgen Hinzpeter (Thomas Kretschmann), jurnalis teve Jerman yang hendak meliput aksi protes di Gwangju. “So I start a revolution from my bed,” kata Oasis. Kim dan Hinzpeter agak berbeda dari Liam dan Noel Galagher, dkk, tapi peran yang mereka mainkan dalam revolusi demokrasi Gwangju 1980 tak bisa dianggap enteng. Mereka memulai revolusi dari balik kemudi taksi. (Baca selengkapnya...)

Ulasan (Film)

Memenangkan Perang dengan Sinema

02.26




Oleh: Satya Adhi

Judul Film       : Their Finest
Sutradara       : Lone Scherfig
Pemeran         : Gemma Arteton, Sam Claflin, Bill Nighy
Tahun Rilis     : 2016
Durasi             : 1 jam 56 menit
Genre              : Drama, sejarah
Skor                : 7/10

MEMENANGKAN perang tidak cuma diusahakan dengan tembakan mitraliur dan pengiriman pasukan buat merebut kota. Perang juga harus memenangkan perasaan warga. Bujuk rayu yang bertenaga pun dikerahkan melalui sinema.

Di tahun 1940, pemerintah Inggris yang berencana ikut urun dalam kekacauan Perang Dunia II menyadari betul hal ini. Inggris butuh film propaganda perang yang memuat dua hal utama: original dan membangkitkan optimisme penonton. Setelah kegagalan film-film propaganda sebelumnya, Catrin Cole (Gemma Arteton), seorang mantan penulis iklan, digaji dua pounds per minggu oleh Kementrian Informasi untuk menulis naskah film yang lebih ampuh. (Baca selengkapnya...)

Ulasan (Buku)

"Partisipasi Politik Virtual" (Fayakhun Andriadi): Kuasa Warga di Majelis Tanpa Tubuh

06.53




Oleh: Satya Adhi

Judul buku                 : Partisipasi Politik Virtual, Demokrasi Netizen di Indonesia
Penulis                        : Fayakhun Andriadi
Penerbit                     : RMBooks
Tahun terbit              : Cetakan I, November 2017
Jumlah halaman        : xiii + 399 halaman

SEBELUM internet dihadirkan di Indonesia, politik adalah baliho, konvoi jalanan, orasi di panggung, juga goyangan biduanita dangdut. Demokrasi berarti demonstrasi; spanduk bercoret piloks, bakar ban, tangan terkepal di udara. Sebelum ada internet, cuma lima tahun sekali jemari warga berubah politis. Kini, tiap sapuan jemari di layar gawai adalah politik.

Padahal, internet di Indonesia tidak dihadirkan oleh pemerintah yang berimankan demokrasi. Mulanya, pada akhir 1980-an hingga awal 1990-an pemerintah Orde Baru punya ambisi ambisius di bidang teknologi. Menteri Negara Riset dan Teknologi saat itu, B.J. Habibie, memimpin proyek pembangunan teknologi. Internet salah satunya.

Hingga akhir 1996, diperkirakan ada 40.000 pelanggan internet di Indonesia (Hill & Sen, 2001: 330). Warga jadi sadar kalau internet adalah jagat lain yang tak terpantau intel Soeharto. Meski tiga media besar di Jakarta, Tempo, Detik, dan Editor dibredel pada 1994, orang-orang punya media lain buat mengatasi sensor pemerintah. (Baca selengkapnya...)

Esai

Pers dan Militansi Islam Sipil

06.43

REMOTIVI-Darth Vader (CC0)

Oleh: Satya Adhi
DALAM sejarah perkembangan pers di Indonesia, ingatan tentang "pers versus negara" terus direproduksi dari masa ke masa, dari massa ke massa. Pembredelan majalah Tempo bersama DeTik, dan Editor pada 1994 misalnya, terus menerus diceritakan hingga hari ini.
Namun, narasi sejarah pers Indonesia mutakhir tidak hanya mengisahkan pers versus negara, tapi juga pers versus kelompok Islam sipil militan. Front Pembela Islam (FPI), dalam narasi mutakhir itu, adalah yang terdepan memainkan peran antagonistik tersebut.
Hingga kini, tercatat FPI telah melakukan tekanan, serangan, dan kekerasan terhadap beberapa media di Jakarta. Di antaranya pengrusakan kantor Playboy Indonesia pada April 2006, ancaman terhadap SCTV yang hendak menayangkan film “?” garapan Hanung Bramantyo pada Agustus 2011, tekanan terhadap Kompas usai pemuatan berita tentang seorang pemilik warung yang dipaksa tutup oleh Satpol PP pada Ramadhan 2016, serta tekanan terhadap koran The Jak yang memuat gambar meme Rizieq Shihab pada Mei 2017. Yang terbaru, ratusan massa FPI mendatangi kantor majalah Tempo16 Maret 2018, memprotes pemuatan karikatur yang dianggap menghina Rizieq Shihab. (Baca selengkapnya...)

Like us on Facebook