Esai

Koleksi Terpenting Perpustakaan Batoe Api adalah Kliping

04.27



Oleh: Satya Adhi

Aku melangkah ke kebun buku mungil di pinggiran Jalan Raya Jatinangor yang macet. Sebuah perpustakaan dengan aroma kertas menembus masker KN95, wangi. Aku kira, ada belasan ribu buku di sini. Tersusun berkelompok sesuai tema meski di rak tak ada kartu petunjuk. Jurnalistik dan ilmu komunikasi, sastra, sejarah Indonesia, gender dan feminisme, tentu masih banyak lagi, tapi yang membuat mataku melotot adalah deretan map tebal di bawah jendela yang menghadap jalan.


Tanpa membuka map-map itu, aku tahu apa isinya. Kliping. Tersusun menurut tiap topik yang dikipling. Sastra dunia, sastra Indonesia, Revolusi Kemerdekaan, G30S & PKI, Pramoedya Ananta Toer, dan banyak lainnya. Aku tarik satu kliping tentang gaya hidup dan posmo, membaca esai Arief Budiman tentang Jakarta, lalu buru-buru memberi vonis: kliping adalah koleksi terpenting perpustakaan Batoe Api. (Baca selengkapnya ...)

Esai

Ayah Ajaib Bernama Salman Rushdie

17.30


Salman Rushdie dan Zafar. (Foto: Judith Aronson).

Oleh: Satya Adhi

SANG AYAH memberinya nama: Rushdie, dari Ibnu Rusyd – orang-orang Eropa menyebutnya Averroes – cendekiawan muslim progresif abad 12, dan setiap penamaan adalah wujud kekuasaan; seperti kala Tuhan mengajari Adam nama-nama. Menghapus ketidaktahuan, memberi kuasa atas yang terberi nama.

Barangkali itulah mengapa sang ayah, Anis Ahmed, membenci karya Rushdie yang paling masyhur, Midnight’s Children. Di novel itu, karakter Ahmed Sinai adalah sosok ayah yang tak bergairah, sering keliru mengambil keputusan bisnis yang memberi dampak buruk untuk keluarga, dan – sebuah adegan yang paling diingat – suatu pagi mendaratkan pukulan di telinga kiri anaknya; Saleem Sinai si bocah ajaib, saat Saleem mengatakan ke seisi keluarga: Aku mendengar suara-suara kemarin. Suara yang berbicara kepadaku di dalam kepalaku. Aku kira – Ammi, Abboo, aku benar-benar mengira – Malaikatlah yang berbicara kepadaku. (Baca selengkapnya ....)

Esai

Dari Sensor ke Sensor: Bagaimana Industri Film Korea Bertahan dan Melawan

22.44


Protes di depan sebuah bioskop di Myongdong, Seoul, pada September 1988, terhadap distribusi langsung film Hollywood ke Korea (sumber: popupargusts.blogspot.com).

Oleh: Satya Adhi

Sejarah film Korea adalah sejarah perlawanan. Ini yang jarang dibahas ketika Parasite-nya Bong Joon-ho menjadi film Korea pertama yang raih piala Oscar untuk kategori film terbaik di Academy Awards 2020.

Nyaris semua orang membicarakan bagaimana Parasite sukses membikin sejarah; bagaimana film tersebut akan mengubah lanskap perfilman global. Kita agaknya lupa kalau film sekelas Parasite tak mungkin lahir dari situasi sosial-politik yang biasa-biasa saja.

Korea -- seperti negara dunia ketiga lainnya -- punya sejarah panjang tentang represi dan sensor terhadap karya seni. Mengetahui bagaimana para produser dan pembuat fIlm Korea merespons kebijakan penguasa dari masa ke masa, akan membantu kita melihat apa yang tak tampak di layar sinema.

Korea di Bawah Rezim Sensor

Industrialisasi sinema Korea setidaknya bisa dilihat sejak 1960-an, saat rezim militer Park Chung-hee berkuasa. Di tengah hubungan yang panas dengan Korea Utara pasca perang 1950-1953, pemerintah Korea tak berminat tumbuhkan industri sinema yang semata datangkan cuan.

Esai

Han Kang Berbisik Pertanyaan

05.59



gambar: s3-ap-southeast-2.amazonaws.com


“Ia tidak percaya manusia. Wajah, fakta, dan kalimat semanis apa pun tidak dapat dipercaya. Ia tahu harus keluar dari dalam pertanyaan-pertanyaan dingin dan rasa curiga yang kental” 
(Mata Malam, 2017: 115).

Seoul, Korea Selatan, 1982. Di sebuah malam musim panas yang gerah, seorang gadis kecil membuka selembar halaman buku yang belum selesai dari sejarah negaranya. Bukan hanya belum selesai. Halaman hitam itu tengah ditulis oleh seorang presiden keji, juga derap sepatu para serdadu, kepalan tangan para pelajar, dan air mata setiap Ibu yang anaknya tak berkabar berhari-hari.

Han Kang, gadis 12 tahun yang kepalanya ditumbuki banyak pertanyaan, merangkak naik ke rak buku ayahnya ketika seisi rumah tengah menonton teve di dapur. Diam-diam ia meraih sebuah album foto yang dibeli ayahnya di terminal Gwangju – kota yang terhampar 268 km di sebelah selatan Seoul. Celaka. Han Membuka album terkutuk itu.

“Aku ingat ketika membuka halaman terakhir album itu, ketika aku melihat wajah anak perempuan yang tubuhnya hancur akibat tusukan pedang yang dalam. Suatu bagian yang lembut di dalam diriku, yang sebelumnya tidak kusadari ada di sana, pecah tanpa suara” (Han Kang, 2017: 235). (Baca selengkapnya...)

Esai

Pers dan Militansi Islam Sipil

06.43

REMOTIVI-Darth Vader (CC0)

Oleh: Satya Adhi
DALAM sejarah perkembangan pers di Indonesia, ingatan tentang "pers versus negara" terus direproduksi dari masa ke masa, dari massa ke massa. Pembredelan majalah Tempo bersama DeTik, dan Editor pada 1994 misalnya, terus menerus diceritakan hingga hari ini.
Namun, narasi sejarah pers Indonesia mutakhir tidak hanya mengisahkan pers versus negara, tapi juga pers versus kelompok Islam sipil militan. Front Pembela Islam (FPI), dalam narasi mutakhir itu, adalah yang terdepan memainkan peran antagonistik tersebut.
Hingga kini, tercatat FPI telah melakukan tekanan, serangan, dan kekerasan terhadap beberapa media di Jakarta. Di antaranya pengrusakan kantor Playboy Indonesia pada April 2006, ancaman terhadap SCTV yang hendak menayangkan film “?” garapan Hanung Bramantyo pada Agustus 2011, tekanan terhadap Kompas usai pemuatan berita tentang seorang pemilik warung yang dipaksa tutup oleh Satpol PP pada Ramadhan 2016, serta tekanan terhadap koran The Jak yang memuat gambar meme Rizieq Shihab pada Mei 2017. Yang terbaru, ratusan massa FPI mendatangi kantor majalah Tempo16 Maret 2018, memprotes pemuatan karikatur yang dianggap menghina Rizieq Shihab. (Baca selengkapnya...)

Esai

Dari Aa' Gym ke Felix Siauw: Ustaz Medsos & Medium Dakwah Politis

06.18

Oleh: Satya Adhi

Ketika Zainuddin MZ melejit sebagai dai sejuta umat pada awal dekade 1980-an, tren baru kesalehan publik muncul ke permukaan. Sebutan Zainuddin sebagai “dai sejuta umat” bukan tak punya makna apa-apa. Julukan itu menandai pergantian gaya Islamisasi dari budaya keaksaraan ke kelisanan.

Zainuddin mendapat kesempatan pengarsipan dan publikasi dakwah yang belum pernah didapatkan para dai sebelum dia. Berawal dari kontrak dengan perusahaan rekaman Virgo Record, kaset-kaset rekamannya disetel di hampir setiap rumah di Indonesia Orde Baru. Cara dakwah kelisanan dengan medium dengar semacam ini jelas berbeda dari pengajaran ala pesantren, yang menuntut ketekunan membaca dan menulis—suatu aktivitas soliter.

Rekaman-rekaman ceramahnya yang disetel di radio telah menciptakan komunitas separuh maya di pelbagai tempat. Jika Martin Luther menyatukan umat Protestan lewat budaya keaksaraan berkat terjemahan Injil, Zainuddin menyatukan umat Islam lndonesia lewat dakwah kelisanan. Dan sejak itu (hingga sekarang), mempelajari agama jadi perkara praktis, cenderung tidak literer, tetapi tetap populer. (Baca selengkapnya...)

Esai

Kuasa Personal Media Sosial

11.07


Sumber gambar: pixel.nymag.com


PENGHUJUNG TAHUN 2017 di awal abad 21 ditutup (dan dibuka) dengan angka-angka fantastis dari jagat maya. Musisi asal Amerika Serikat, Selena Gomez – atau rasanya lebih enak kalau disebut @selenagomez – menjadi akun dengan pengikut terbanyak di Instagram. Hingga 22 Desember 2017, jumlah pengikutnya di Instagram mencapai 131 juta pengikut. Dalam daftar sepuluh akun Instagram dengan pengikut terbanyak di semesta, supermodel Kendall Jenner (@kendalljenner) yang berada di peringkat sepuluh saja mampu memiliki 84,8 juta pengikut (Solopos, 14 Desember 2017).

Kalau mau nekat melakukan proklamasi kemerdekaan wilayah maya, para selebgram pasti sudah sah mendirikan negara sendiri-sendiri. Akun @selenagomez misalnya, akan jadi negara dengan jumlah penduduk nomor sepuluh di dunia! (data populasi penduduk dari esa.un.org) Bahkan, para nabi dan rasul utusan Tuhan pun nyaris tidak ada yang mempunyai pengikut sebanyak pengikut para selebgram.

Angka-angka fantastis tersebut kiranya sudah cukup membuat kita perlu merumuskan ulang makna “media massa” secara khusus dan “komunikasi massa” secara umum. Jika selama ini komunikasi massa dimaknai sebagai aktivitas komunikasi dari institusi media kepada massa, kehadiran media sosial yang bersifat personal tapi mampu menghadirkan dampak massal, akan menghadirkan gugatan terhadap konsep-konsep dan pola pikir yang selama ini sudah kita yakini.

Alam pikir media jurnalisme jadi tidak bisa hanya berpusat pada media berbasis laman (website) yang cenderung institusional, tapi perlu berpusat pada media sosial yang personal-massal. (Baca selengkapnya...)

Esai

Milenial Merayakan Buku

18.33


Solopos, 14 Desember 2017


DI HINDIA BELANDA, kehadiran buku dalam foto kira-kira terjadi pada awal abad 20. Kita bisa menyaksikannya dalam buku keluaran penerbit buku Islam mahsyur Solo, AB Sitti Sjamsijah, yang menerbitkan buku berjudul Agama dan Pengetahoean. Godsdienst en Wetenschap garapan Voorziter (Ketua) Moehammadijah Soerakarta, Kyai Moechtar Boechary. Buku itu terbit tahun 1927.

Aku menemui buku itu di perpustaakaan Bilik Literasi ketika menggarap majalah Kentingan awal tahun ini. Buku terkesan mewah karena sampul depan memajang foto hitam putih seorang lelaki muda. Ia berblangkon, memakai setelan jas ala Eropa, dan berkain jarit. Yang dahsyat, ia berfoto dalam pose duduk sambil memangku benda magis penghimpun kata-kata: buku!

Perkiraanku atas kehadiran foto dalam buku disebabkan dua hal. Pertama, teknologi kamera foto hadir di Hindia Belanda pada pertengahan abad 19. Candi Borobudur menjadi objek foto komersial pertama kali di Hindia pada 1845 (Anderson, 2008: 274). Kemudian gairah intelektual mengalir deras pada akhir abad 19 hingga awal abad 20, terlebih setelah pemerintah kolonial Belanda mengeluarkan kebijakan Politik Etis pada  1901.

Sebagai simbol utama ilmu pengetahuan dan intelektualitas, buku adalah benda yang wajib ada di setiap ruangan manusia Hindia yang mengaku ngintelek. Berkat teknologi kamera foto, buku yang selesai dibaca bisa dirayakan dengan cara lain. Dirayakan sebagai properti pose foto kaum intelektual Hindia abad 20.

Kebiasan ini berlanjut hingga awal abad 21. Buku – baik yang benar-benar buku atau hanya gambar buku – hadir di setiap seremonial wisuda di kampus-kampus seluruh Indonesia. Mahasiswa yang rakus membaca sampai yang emoh membaca, hampir pasti akan berfoto dengan latar belakang buku. Bisa bersama orang tua, adik-kakak, kekasih, atau gandengan bayaran. (Baca Selengkapnya...)

Esai

Orientalisme Jurnalisme: Dilema Wartawan dalam Meliput Masyarakat Adat

03.21

Anak-anak Suku Anak Dalam (SAD) Batin Sembilan menikmati pendidikan dasar di kawasan konsesi Hutan Harapan PT Restorasi Ekosistem Indonesia (REKI), Desa Bungku, Bajubang, Batanghari, Jambi, Selasa (11/4). Puluhan anak-anak SAD yang tinggal di dalam kawasan dan sekitar hutan konsesi tersebut mendapatkan fasilitas pendidikan dasar gratis dari pihak pengelola Hutan Harapan dengan sistem jemput bola atau mendatangi langsung tempat-tempat bermain mereka. ANTARA FOTO/Wahdi Septiawan/aww/17.


JURNALISME telah melahirkan beragam genre. Jurnalisme investigasi, jurnalisme presisi, jurnalisme sastrawi, dan sebagainya. Namun nyaris semua jurnalisme yang dipakai, adalah jurnalisme yang eksis di tengah-tengah masyarakat perkotaan dengan budaya yang seragam. Tak terlalu nampak kesenjangan atau dominasi budaya satu dengan yang lain.

Dilema muncul ketika para jurnalis turun ke wilayah-wilayah pedalaman. Bertemu masyarakat yang tinggal di sana, lalu melaporkan dan menyajikannya dalam sebuah laporan jurnalistik. Padahal nyaris semua jurnalis dididik dalam lingkungan kampus berkurikulum modern. Mereka juga hidup dalam sebuah struktur masyarakat perkotaan yang tak banyak menemui isu-isu minoritas. 

Kalaupun ada, isu yang ditemui terbatas pada masyarakat minoritas yang masih tinggal di perkotaan (khususnya minoritas agama atau ekonomi-politik). Bagaimana meliput mereka yang ada di pedalaman? Mereka yang struktur masyarakat, agama, dan pola pikirnya berbeda dengan jurnalis kebanyakan. (Baca selengkapnya...)


Esai

Percayalah, Butuh Lengan Kuat untuk Jadi Wartawan

05.31


SETELAH MAGANG jadi wartawan, saya jadi sering push up tiap pagi. Sebelumnya, boro-boro push up. Mengangkat laundrian 3 kg saja ngos-ngosan.

Rutinitas push up tadi berasal dari buah kesadaran penting. Saya sadar kalau jadi wartawan bukan cuma butuh kemampuan menulis yang baik, bacaan yang luas, dan kemampuan wawancara yang lamis. Ternyata, jadi wartawan juga harus punya kekuatan lengan yang kuat.

Begini asal muasalnya. Syahdan, saya tengah magang di media daring yang sering dikira perusahaan air minum (apa hayo?) Di minggu kedua magang, di hari Jumat yang agung, koordinator liputan media tempat saya magang bersabda agar saya berangkat ke Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM). Katanya, alumni gerakan 212 mau reunian di sana.

Acara reuinian ternyata ramai juga. Tapi yang bikin ramai bukan nonton bareng Wiro Sableng atau gerak jalan bareng Partai Syariah 212. Ternyata selain reunian, mereka mau melayangkan pengaduan ke Komnas HAM. Kebetulan, junjungan agung mereka tengah diterpa kasus dugaan pesan cabul. Takbir! Baca selengkapnya...

Esai

Mengapa Masih Turun ke Jalan?

04.31


ESAIS DAN DEMONSTRAN telah bekerjasama. Langka memang. Tapi gegara menyoal demonstrasi digital, kelangkaan itu terpaksa ada. Contohlah esai Na’imatur Rofiqoh dan Ririn Setyowati. Walau penuh nyinyiran tapi nyaris solutif.

Penyiaran demonstrasi secara digital yang dilakukan Badan Eksekutif Mahasiswa Seluruh Indonesia (BEM SI) wilayah Jawa Tengah-DIY, melalui akun instagram @bemuns, 12 April 2017, sudah seperti ‘ramalan’ ciamik yang terwujud sebagai bentuk praktis dari esai Na’imatur, Aktivisme Mahasiswa di Era E-Demonstrasi (Kentingan, 2016).

Kemudian melalui esai Gawaiku Ramaikan Demonstrasimu (Solopos, 18 April 2017), Ririn Setyowati naik satu tingkat dengan jeli dan nyaris solutif merumuskan sebuah pertanyaan yang harus dijawab oleh para mahasiswa demonstran, “bagaimana membuat Jokowi dan antek-anteknya nge-klik live streaming kamu” (?).

Kini, izikan aku menjawab pertanyaan itu. Syukur bisa menjadi solutif seperti apa yang demonstran tunggu-tunggu. Baca selengkapnya...

Esai

I-Y-A-K

16.02

Iyak Belajar Mengaji
Ibu, Bapak, dan adik-adiknya memanggil bocah itu Iyak. Usia Iyak lima tahun. Ia senang belajar mengaji. Setiap malam usai sembahyang magrib, Iyak menghadap buku Qiraati. Itu sepuluh jilid buku untuk belajar huruf hijaiah. Dengan tekun, Ibu mengajari Iyak mengaji. “Alif fatah A, Alif kasrah I, Alif dhumah U. A-I-U.”

Dengan lincah, bola mata dan jari mungil Iyak mengikuti aliran huruf yang lucu itu. Ada yang bentuknya macam pentungan, ada yang bentuknya seperti semprotan kaca, ada juga yang seperti perahu.

Ibu biasa membeli buku Qiraati di pasar. Jadi, setiap mengkhatamkan satu jilid dan naik ke jilid berikutnya, Iyak selalu menanti Ibu pulang dari pasar membawa buku Qiraati yang baru. “Ibu, kapan beli Qiraati jilid baru?” Tanya Iyak penasaran. Warna bukunya yang warna-warni membuat Iyak semangat belajar mengaji. Baca selengkapnya...

Like us on Facebook