Cerpen

Kematian Singkat Seorang Penyamun

22.41


Gambar: Flickr
Oleh: Satya Adhi
SEPOTONG malam, di sini aku akan mati. Jidat langit melompong tanpa gemintang. Gelap. Bubuk tanah hambar tak menguarkan bau. Satu-satunya aroma yang kuhirup memancar dari tubuhku. Anyir.
Dadaku sakit sekali. Merah. Beruntung angin bernapas sejuk. Suara daun-daun tebu bercumbu menenangkan. Udara semacam ini biasa membuatku masuk angin. Tapi kali ini embusannya cukup buat menghibur sakit di dadaku.
Oi! Menyingkir dari kakiku, tikus sialan. Belum saatnya kau makan malam. Menyingkir, kubilang! Asu. Oh, jangkrik … ya, teruslah nembang seperti itu. Para daun, bercumbulah lebih semangat. Rancak. Nah, seperti itu. Tidak, jangan kalian, para tikus! Diam! Kalian merusak tabuhannya.
Ada suara motor berderu. Suaraku tertahan, sial. Tolong … tol …. Keluarkan suara lantangmu wahai tenggorokan terkutuk! Suara motornya menghilang. Aku harus bertahan. Aku akan menunggu motor selanjutnya lewat. Iya, aku akan menunggu.

Rekaman

Soto Trisakti: Semangkuk Kenangan dari Kalilarangan

00.57




 
sumber foto: blog.airyrooms.com
Oleh: Satya Adhi

Soto bening khas Solo yang satu ini ada sejak separuh abad silam. Sakti mandraguna hingga sekarang.
Ada rutinitas wajib di warung kecil di jalan Kalilarangan, Jayengan, Serengan, Solo. Setiap pukul empat pagi, dapur warung akan sibuk mengepulkan asap. Aroma rempah dan daging sapi memekakkan lubang hidung. Menanti disantap para pengunjung yang mulai berdatangan dua jam kemudian.
Meski luas warung cuma seluas setengah lapangan bulutangkis, pengunjung tetap saja berdatangan tak mau henti. Buktinya, dinding hijau warung ini dipenuhi kalender dari ragam usaha yang numpang promosi.
“Kalender-kalender itu juga punya pelanggan sini,” kata Romli, generasi keempat penerus usaha Soto Trisakti, Sabtu (20/1/2018). “Kalau saya mata duitan, sudah saya buat kotak-kotak [penyewaan ruang promosi].”

(Baca selengkapnya...)

Esai

Dari Sensor ke Sensor: Bagaimana Industri Film Korea Bertahan dan Melawan

22.44


Protes di depan sebuah bioskop di Myongdong, Seoul, pada September 1988, terhadap distribusi langsung film Hollywood ke Korea (sumber: popupargusts.blogspot.com).

Oleh: Satya Adhi

Sejarah film Korea adalah sejarah perlawanan. Ini yang jarang dibahas ketika Parasite-nya Bong Joon-ho menjadi film Korea pertama yang raih piala Oscar untuk kategori film terbaik di Academy Awards 2020.

Nyaris semua orang membicarakan bagaimana Parasite sukses membikin sejarah; bagaimana film tersebut akan mengubah lanskap perfilman global. Kita agaknya lupa kalau film sekelas Parasite tak mungkin lahir dari situasi sosial-politik yang biasa-biasa saja.

Korea -- seperti negara dunia ketiga lainnya -- punya sejarah panjang tentang represi dan sensor terhadap karya seni. Mengetahui bagaimana para produser dan pembuat fIlm Korea merespons kebijakan penguasa dari masa ke masa, akan membantu kita melihat apa yang tak tampak di layar sinema.

Korea di Bawah Rezim Sensor

Industrialisasi sinema Korea setidaknya bisa dilihat sejak 1960-an, saat rezim militer Park Chung-hee berkuasa. Di tengah hubungan yang panas dengan Korea Utara pasca perang 1950-1953, pemerintah Korea tak berminat tumbuhkan industri sinema yang semata datangkan cuan.

Esai

Han Kang Berbisik Pertanyaan

05.59



gambar: s3-ap-southeast-2.amazonaws.com


“Ia tidak percaya manusia. Wajah, fakta, dan kalimat semanis apa pun tidak dapat dipercaya. Ia tahu harus keluar dari dalam pertanyaan-pertanyaan dingin dan rasa curiga yang kental” 
(Mata Malam, 2017: 115).

Seoul, Korea Selatan, 1982. Di sebuah malam musim panas yang gerah, seorang gadis kecil membuka selembar halaman buku yang belum selesai dari sejarah negaranya. Bukan hanya belum selesai. Halaman hitam itu tengah ditulis oleh seorang presiden keji, juga derap sepatu para serdadu, kepalan tangan para pelajar, dan air mata setiap Ibu yang anaknya tak berkabar berhari-hari.

Han Kang, gadis 12 tahun yang kepalanya ditumbuki banyak pertanyaan, merangkak naik ke rak buku ayahnya ketika seisi rumah tengah menonton teve di dapur. Diam-diam ia meraih sebuah album foto yang dibeli ayahnya di terminal Gwangju – kota yang terhampar 268 km di sebelah selatan Seoul. Celaka. Han Membuka album terkutuk itu.

“Aku ingat ketika membuka halaman terakhir album itu, ketika aku melihat wajah anak perempuan yang tubuhnya hancur akibat tusukan pedang yang dalam. Suatu bagian yang lembut di dalam diriku, yang sebelumnya tidak kusadari ada di sana, pecah tanpa suara” (Han Kang, 2017: 235). (Baca selengkapnya...)

Ulasan (Film)

Contek-mencontek Menjadi Satu, Itulah Sekolahan

18.14

sumber: amiratthemovies.wordpress.com
Oleh: Satya Adhi

Judul               : Bad Genius
Sutradara       : Nattawut Poonpiriya
Pemain           : Chutimon Chuengcharoensukying, Chanon Santinatornkul, Teeradon Supapunpinyo
Tahun Rilis     : 2017
Durasi             : 130 menit
Skor                : 8,5 / 10

Awas! Film ini berisi adegan-adegan mencontek yang inspiratif untuk trik-trik mencontek yang lebih kreatif. Butuh kedewasaan pikir buat menonton.

FILM THAILAND pertama-tama digemari di Indonesia karena kisah cinta ABG SMA-nya. Saya yakin, film-film macam Suckseed (Chayanop Boonprakob, 2011) dan Crazy Little Thing Called Love (Puttipong Pormsaka, 2010) adalah gerbang utama sebagian besar penonton Indonesia ke jagat sinema Thailand.

Bad Genius – seperti kebanyakan film Thailand favorit penonton Indonesia – memang berlatar kehidupan SMA di sana. Tapi premis utamanya bukan seorang siswa yang jatuh cinta pada seorang siswi kemudian hubungan mereka dikemas dalam komedi kocak yang bikin ngakak. Bad Genius adalah film thriller-kritis soal pendidikan.

Di sebuah SMA kelas atas, Lynn (Chutimon Chuengcharoensukying), dikisahkan sebagai seorang siswi baru nan cerdas, baru saja pindah ke sekolah tersebut. Alasannya agar bisa mendapat pendidikan yang lebih berkualitas, meski kocek yang dirogoh juga jadi lebih menguras. Lynn digambarkan sebagai karakter yang benar-benar menguasai semua mata pelajaran, seakan punya kejeniusan dalam gennya. (Baca selengkapnya...)

Ulasan (Film)

"Dukhtar": Kawin? Lari!

16.00

Sumber gambar: browngirlmagazine.com
Oleh: Satya Adhi


Judul Film       : Dukhtar
Sutradara       : Afia Serena Nathaniel
Pemain           : Samiya Mumtaz, Saleha Aref, Mohib Mirza
Tahun Rilis     : 2014
Durasi             : 93 menit
Skor                : 6/10

TANPA RISET mendalam dan terukur, saya berani mengatakan bahwa mayoritas bocah di Indonesia pertama kali tahu soal seks bukan dari orang tua. Barangkali mereka mendapatkannya dari pelajaran sekolah, pelajaran agama di luar sekolah, atau, yang paling sering saya dengar dan alami, lewat pornografi.

Jauh dari Indonesia, di sebuah pedalaman pegunungan Pakistan sana, Allah Rakhi (Samiya Mumtaz) – yang berarti ‘Allah Melindungi’ – seorang ibu muda tak berpendidikan formal, sudah punya rasa sadar untuk memberi pendidikan seks kepada putrinya, Zainab (Saleha Aref).

Suatu hari, Allah Rakhi mengajak Zainab ke gudang bawah tanah. Ia kemudian mengambil selembar kain yang sudah disimpan turun temurun. “Ini kain dari malam perkawinan Ibu,” kata Allah Rakhi.

Melihat kain yang ternoda bercak darah kemerahan, Zainab bertanya penasaran. “Darah siapa ini?”

“Darah Ibu. Darah nenekmu. Darah neneknya nenekmu.” (Baca selengkapnya...)

Ulasan (Film)

Revolusi dari Balik Kemudi Taksi

11.19



Oleh: Satya Adhi

Judul Film       : A Taxi Driver
Sutradara       : Jang Hoon
Pemain           : Song Kang-Ho, Thomas Krethscmann, Ryu Jun-Yeol, Yoo Hae-Jin
Tahun Rilis     : Agustus 2017
Durasi             : 137 menit
Skor                 : 8/10

DI KOTA, mobil adalah rumah. Dari dalam rumah, penghuni mobil melihat kehidupan kota bergerak keterlaluan cepat. Kadang roda mobil terhambat kemacetan berjam-jam di jalanan. Rumah-rumah pun bisa capek kalau dipaksa bekerja terus.

Kim Sa-Bok (Song Kang-Ho) punya rumah berjalan semacam itu. Tapi dia bukan jenis warga kelas atas yang punya kuasa atas mobilnya sendiri. Kim Sa-Bok cuma sopir taksi yang harus nurut ke mana penumpang akan pergi. Dia berusaha kerja keras untuk membahagiakan putri semata wayangnya, Eun Jong (Yoo Eun-Mi). Maka, penonton bisa maklum kalau uang jadi incaran utama Kim sepanjang waktu.

Siapa sangka, dari dalam rumah, Kim bersua Jurgen Hinzpeter (Thomas Kretschmann), jurnalis teve Jerman yang hendak meliput aksi protes di Gwangju. “So I start a revolution from my bed,” kata Oasis. Kim dan Hinzpeter agak berbeda dari Liam dan Noel Galagher, dkk, tapi peran yang mereka mainkan dalam revolusi demokrasi Gwangju 1980 tak bisa dianggap enteng. Mereka memulai revolusi dari balik kemudi taksi. (Baca selengkapnya...)

Like us on Facebook