Bulu Tangkis

Panggil Aku Tan Joe Hok Saja

02.24

Foto: Ahmad Waheb

Oleh: Satya Adhi

Tan Joe Hok masih perkasa di usia 84. Ingatannya cespleng. Rambutnya belum mau rontok banyak. Hanya jalannya yang agak susah. Kalau mau berdiri dari posisi duduk, ancang-ancangnya bisa 3-4 detik. “Ini karena enggak pernah dilatih, gara-gara pandemi,” katanya sambil menepuk paha.

Tan tinggal bersama anjingnya, Sidney, di sebuah rumah tua di Jakarta Selatan. Medali-medali dan tanda prestasinya ada di lantai atas. Tapi Tan melarangku ke sana. Katanya, becek karena rumah bocor.


Istrinya meninggal 23 tahun silam. Teman-teman seperjuangannya juga telah mangkat. Tan jadi pemain terakhir dari generasi The Magnificent Seven -- tujuh jago bulu tangkis Indonesia perebut Piala Thomas 1958 -- yang masih diberi urip.


(Baca selengkapnya ....)

Bulu Tangkis

Jonatan Christie Tak Perlu Sempurna. Cukuplah Ia Tampil Ciamik di Saat yang Tepat.

18.54


Foto: Badminton Photo Official via BWF

Oleh: Satya Adhi


Kunci juara Indonesia di Thomas Cup 2020 adalah Jonatan Christie. Tanpa bermaksud mengerdilkan peran pemain lain, posisi Jojo memang begitu krusial. 


Kita tahu, sektor tunggal sangat menentukan hasil di kejuaraan beregu putra maupun putri. Tunggal pertama adalah penentu mental bertanding seluruh tim. Tunggal kedua menjadi penentu arah pertandingan -- tim bisa berada di posisi unggul, tertinggal, atau seri saat ia bertanding. Dan tunggal ketiga menentukan hasil pertarungan.


Bulu Tangkis

Bulu Tangkis Indonesia, Terima Kasih!

12.24

Foto: Antara

Oleh: Satya Adhi

Jumat kemarin aku kecewa. Hendra Setiawan dan Mohammad Ahsan kalah dua set dari pasangan Taiwan, Lee Yang/Wang Chi Lin di semifinal. Tak ada emas dari ganda putra. Dan hari itu -- pikirku -- tak ada emas dari bulu tangkis.

Waktu itu, Greysia Polii/Apriyani Rahayu dan Anthony Ginting memang masih berpeluang dapat emas. Masing-masing di nomor ganda putri dan tunggal putra. Namun sebagai penggemar bulu tangkis yang cukup rajin menyimak pertandingan-pertandingan mereka di berbagai turnamen, yang tahu betul bahwa keduanya kerap tak konsisten dan nyaris selalu gagal di semifinal, harapanku ke mereka saat itu setipis kertas tisu.

(Baca selengkapnya ....)

Bulu Tangkis

Dampak Insiden All England 2021: Haruskah Kita Mengkhawatirkan Performa Pemain Indonesia di Olimpiade?

08.37

Foto: Reuters

Oleh: Satya Adhi

ADA satu hal yang luput dibahas pasca insiden All England 2021 kemarin. Yakni tentang dampak insiden tersebut terhadap performa pemain Indonesia di Olimpiade Tokyo Juli 2021 mendatang.


All England 2021 sebenarnya adalah turnamen yang tepat sebagai ajang persiapan menuju Olimpiade. Ia turnamen besar dan bersejarah, cocok buat menguji mental dan fisik pemain kita. Dengan absen di All England, kesempatan ini hilang. “Mesin” para pemain Indonesia pun dipaksa kembali dingin. Ini tentu berdampak ke performa pemain. 


Konten Eksplanatori Favorit yang Saya Bikin Sepanjang 2020

05.52

SEPANJANG 2020, Narasi, media tempat saya bekerja, lebih banyak menugasi saya untuk bikin konten-konten eksplanatori. Ini jenis laporan jurnalisme yang lebih banyak menekankan unsur "why" dan "how." 

Konten eksplanatori itu asyik. Ia mampu mengisi lini masa kita yang agaknya miskin dari konten-konten komprehensif dan berwawasan. Yang lebih seru, konten eksplanatori membuat reporter dan penulisnya dilatih menyampaikan sesuatu yang kompleks secara sederhana.

Saya tak sendirian memproduksi konten-konten tersebut. Saya hanya satu dari sekian rantai produksi yang harus dilalui sebelum konten bisa dinikmati netizen di Instagram, YouTube, dan Twitter. Ada tim riset, desainer grafis, editor video, produser, produser eksekutif, hingga manajer yang memastikan konten-konten Narasi baik secara mutu jurnalistik dan menyenangkan buat ditonton. 

Konten-konten favorit yang saya bikin banyak berkisar pada topik pandemi COVID-19. Sejak wabah ini dilaporkan di Indonesia Maret 2020 lalu, ada periode ketika setiap hari saya bikin konten soal COVID-19. Bosan, iya. Tapi rasa penat seolah hilang kalau saya mendapat jatah bikin konten yang tak melulu berfokus pada wabahnya, tapi sisi lain wabah tersebut.

Mempertimbangkan kedalaman riset yang mungkin dilakukan dalam beberapa jam pembuatan konten, kerapian naskah, serta kualitas produksi, ini 15 konten eksplanatori favorit yang saya bikin sepanjang 2020.

(Baca selengkapnya....)

Esai

Ayah Ajaib Bernama Salman Rushdie

17.30


Salman Rushdie dan Zafar. (Foto: Judith Aronson).

Oleh: Satya Adhi

SANG AYAH memberinya nama: Rushdie, dari Ibnu Rusyd – orang-orang Eropa menyebutnya Averroes – cendekiawan muslim progresif abad 12, dan setiap penamaan adalah wujud kekuasaan; seperti kala Tuhan mengajari Adam nama-nama. Menghapus ketidaktahuan, memberi kuasa atas yang terberi nama.

Barangkali itulah mengapa sang ayah, Anis Ahmed, membenci karya Rushdie yang paling masyhur, Midnight’s Children. Di novel itu, karakter Ahmed Sinai adalah sosok ayah yang tak bergairah, sering keliru mengambil keputusan bisnis yang memberi dampak buruk untuk keluarga, dan – sebuah adegan yang paling diingat – suatu pagi mendaratkan pukulan di telinga kiri anaknya; Saleem Sinai si bocah ajaib, saat Saleem mengatakan ke seisi keluarga: Aku mendengar suara-suara kemarin. Suara yang berbicara kepadaku di dalam kepalaku. Aku kira – Ammi, Abboo, aku benar-benar mengira – Malaikatlah yang berbicara kepadaku. (Baca selengkapnya ....)

Like us on Facebook