Esai

Pers dan Militansi Islam Sipil

06.43

REMOTIVI-Darth Vader (CC0)

Oleh: Satya Adhi
DALAM sejarah perkembangan pers di Indonesia, ingatan tentang "pers versus negara" terus direproduksi dari masa ke masa, dari massa ke massa. Pembredelan majalah Tempo bersama DeTik, dan Editor pada 1994 misalnya, terus menerus diceritakan hingga hari ini.
Namun, narasi sejarah pers Indonesia mutakhir tidak hanya mengisahkan pers versus negara, tapi juga pers versus kelompok Islam sipil militan. Front Pembela Islam (FPI), dalam narasi mutakhir itu, adalah yang terdepan memainkan peran antagonistik tersebut.
Hingga kini, tercatat FPI telah melakukan tekanan, serangan, dan kekerasan terhadap beberapa media di Jakarta. Di antaranya pengrusakan kantor Playboy Indonesia pada April 2006, ancaman terhadap SCTV yang hendak menayangkan film “?” garapan Hanung Bramantyo pada Agustus 2011, tekanan terhadap Kompas usai pemuatan berita tentang seorang pemilik warung yang dipaksa tutup oleh Satpol PP pada Ramadhan 2016, serta tekanan terhadap koran The Jak yang memuat gambar meme Rizieq Shihab pada Mei 2017. Yang terbaru, ratusan massa FPI mendatangi kantor majalah Tempo16 Maret 2018, memprotes pemuatan karikatur yang dianggap menghina Rizieq Shihab. (Baca selengkapnya...)

Ulasan (Buku)

"Steppenwolf" (Hermann Hesse): Separuh Hermann Hesse adalah Serigala

06.27



Oleh: Satya Adhi

Judul                           : Steppenwolf
Penulis                       : Hermann Hesse
Penerjemah              : Marina Pakaya
Penerbit                     : Immortal Publishing
Tahun Terbit             : Cetakan I, 2017
Jumlah Halaman      : 320 halaman


Sejak aku dilahirkan oleh ibuku, aku bersalah. Aku dikutuk menjalani hidup ini. Aku dipaksa menjadi milik negara, bertugas sebagai tentara, membunuh dan membayar pajak untuk penyediaan alat-alat perang” (hal. 273)

PADA catatan yang ditulis Hermann Hesse di tahun 1961 untuk mengawali Steppenwolf entah cetakan yang ke berapa, sang penulis memberi ingat kepada pembaca. “… Steppenwolf adalah satu-satunya karya yang paling sering disalahpahami dengan cara yang gegabah dibandingkan karya-karya saya yang lain, dan kerap kesalahpahaman itu berasal dari pembaca yang suka dan bersemangat dengan kehadiran buku ini, alih-alih berasal dari pembaca yang menolaknya,…” (hal. 5).

Di lain catatan, Berthold Damshauser (2015) memberi penjelasan atas kekhawatiran Hesse tersebut. Sekitar tahun 1960-an, Steppenwolf yang pertama terbit tahun 1927 di Jerman rupanya memberi dampak dahsyat pada gerakan “urakan” di Amerika Serikat. Ia diistilahkan Damshauser sebagai “injil” buat anak-anak Hippie serta kelompok yang menentang kapitalisme dan perang Vietnam.

Setelah diberi ingat oleh Hesse di catatan mula, pembaca akan menemui kata pengantar yang ditulis Hesse melalui karakter seorang bocah. Si bocah berkisah ihwal seorang lelaki bernama Harry Haller yang menyewa kamar di rumah bibinya selama beberapa saat. Harry Haller digambarkan sebagai lelaki penyendiri, mengenaskan, hingga dekat dengan niatan swabunuh atau bunuh diri. (Baca selengkapnya...)

Esai

Dari Aa' Gym ke Felix Siauw: Ustaz Medsos & Medium Dakwah Politis

06.18

Oleh: Satya Adhi

Ketika Zainuddin MZ melejit sebagai dai sejuta umat pada awal dekade 1980-an, tren baru kesalehan publik muncul ke permukaan. Sebutan Zainuddin sebagai “dai sejuta umat” bukan tak punya makna apa-apa. Julukan itu menandai pergantian gaya Islamisasi dari budaya keaksaraan ke kelisanan.

Zainuddin mendapat kesempatan pengarsipan dan publikasi dakwah yang belum pernah didapatkan para dai sebelum dia. Berawal dari kontrak dengan perusahaan rekaman Virgo Record, kaset-kaset rekamannya disetel di hampir setiap rumah di Indonesia Orde Baru. Cara dakwah kelisanan dengan medium dengar semacam ini jelas berbeda dari pengajaran ala pesantren, yang menuntut ketekunan membaca dan menulis—suatu aktivitas soliter.

Rekaman-rekaman ceramahnya yang disetel di radio telah menciptakan komunitas separuh maya di pelbagai tempat. Jika Martin Luther menyatukan umat Protestan lewat budaya keaksaraan berkat terjemahan Injil, Zainuddin menyatukan umat Islam lndonesia lewat dakwah kelisanan. Dan sejak itu (hingga sekarang), mempelajari agama jadi perkara praktis, cenderung tidak literer, tetapi tetap populer. (Baca selengkapnya...)

Ulasan (Buku)

"Human Act" (Han Kang): Tafsir atas Tubuh-tubuh Gwangju

05.56



Oleh: Satya Adhi

Judul                           : Mata Malam
Penulis                        : Han Kang
Penerjemah               : Dwita Rizki
Penerbit                     : Penerbit Baca
Tahun terbit              : Oktober 2017
Jumlah halaman        : 257 halaman

Aku terkejut ketika memulai Mata Malam. Ia adalah ujud Han Kang yang liyan. Cukup liyan dengan Vegetarian (diterbitkan Penerbit Baca, Februari 2017) yang sangat personal dalam mengisahkan tubuh, Han Kang memulai Mata Malam dengan pemandangan massal tubuh-tubuh tak bernyawa.

Tubuh-tubuh itu dibunuh oleh negara (baca: tentara). Saat mati dibungkus bendera negara. Orang-orang yang masih hidup menyanyikan lagu kebangsaan negara untuk mereka. Hingga Dong Ho, seorang bocah yang tengah mencari jenazah kawannya, mengajukan pertanyaan jenius. “Kenapa mereka menyanyikan lagu kebangsaan untuk orang-orang yang dibunuh oleh tentara? Kenapa mereka menyelimuti peti mati dengan bendera Korea? Seolah-olah yang membunuh mereka bukan negara” (hal. 18).

Sejak membaca Vegetarian, aku sadar kalau Han Kang memang jeli mengeksplorasi tubuh. Dalam babak kedua Mata Malam, Napas Hitam, Han Kang bahkan membuat arwah yang mati menjadi hidup. Aku merinding manja. Lalu merasa wajib menambahkan Han Kang ke dalam daftar penafsir kematian favoritku – selain Orhan Pamuk dalam Namaku Merah (diterbitkan Serambi, 2015) dan Efek Rumah Kaca dalam Putih (album Sinestesia, 2015). (Baca selengkapnya...)

Esai

Kuasa Personal Media Sosial

11.07


Sumber gambar: pixel.nymag.com


PENGHUJUNG TAHUN 2017 di awal abad 21 ditutup (dan dibuka) dengan angka-angka fantastis dari jagat maya. Musisi asal Amerika Serikat, Selena Gomez – atau rasanya lebih enak kalau disebut @selenagomez – menjadi akun dengan pengikut terbanyak di Instagram. Hingga 22 Desember 2017, jumlah pengikutnya di Instagram mencapai 131 juta pengikut. Dalam daftar sepuluh akun Instagram dengan pengikut terbanyak di semesta, supermodel Kendall Jenner (@kendalljenner) yang berada di peringkat sepuluh saja mampu memiliki 84,8 juta pengikut (Solopos, 14 Desember 2017).

Kalau mau nekat melakukan proklamasi kemerdekaan wilayah maya, para selebgram pasti sudah sah mendirikan negara sendiri-sendiri. Akun @selenagomez misalnya, akan jadi negara dengan jumlah penduduk nomor sepuluh di dunia! (data populasi penduduk dari esa.un.org) Bahkan, para nabi dan rasul utusan Tuhan pun nyaris tidak ada yang mempunyai pengikut sebanyak pengikut para selebgram.

Angka-angka fantastis tersebut kiranya sudah cukup membuat kita perlu merumuskan ulang makna “media massa” secara khusus dan “komunikasi massa” secara umum. Jika selama ini komunikasi massa dimaknai sebagai aktivitas komunikasi dari institusi media kepada massa, kehadiran media sosial yang bersifat personal tapi mampu menghadirkan dampak massal, akan menghadirkan gugatan terhadap konsep-konsep dan pola pikir yang selama ini sudah kita yakini.

Alam pikir media jurnalisme jadi tidak bisa hanya berpusat pada media berbasis laman (website) yang cenderung institusional, tapi perlu berpusat pada media sosial yang personal-massal. (Baca selengkapnya...)

Ulasan (Buku)

"Indonesia Tidak Hadir di Bumi Manusia" (Max Lane): Menghadirkan Bumi Manusia di Indonesia

10.45




Judul Buku     : Indonesia Tidak Hadir di Bumi Manusia
Penulis            : Max Lane
Penerbit         : Djaman Baroe
Tahun Terbit : Agustus, 2017
Tebal               : xii + 196 halaman

TETRALOGI Bumi Manusia selama ini mengalami dilema situasional. Di kalangan sastrawan dan intelektual akademis Indonesia, ia adalah karya sastra yang seharusnya sudah habis dibaca, ditafsirkan, dan diobrolkan. Para cendekia sudah selayaknya bergerak membicarakan karya-karya sastra kolonial maupun pascakolonial dengan sudut pandang yang lain.

Namun di kalangan orang awam, Tetralogi Bumi Manusia adalah tebing jauh yang tak terlihat apalagi tergapai. Semua orang ber-KTP Indonesia harus-wajib mencapai tebing itu kalau tidak mau jatuh ke jurang sesat sejarah dan sesat pikir. Mau tidak mau, butuh kerja keras untuk membangun jembatan ke arah sana.

Maka, ketika buku Indonesia Tidak Hadir di Bumi Manusia dirilis, tantangan besarnya adalah: pertama, apakah buku ini bisa menghadirkan tafsir segar atas Tetralogi Bumi Manusia sekaligus; kedua, apakah buku ini bisa menyihir orang awam untuk membaca karya agung Pram itu.

Dua tantangan itu sebenarnya berpeluang untuk bisa terjawab. Latar belakang Max Lane yang seorang akademis cum aktivis, memberikan ia kelonggaran untuk menerobos sekat ilmiah tanpa mengorbankan objektivitas. Dalam esai-esainya di buku ini, Max Lane terlihat berusaha menjawab dua tantangan itu. (Baca selengkapnya...)

Esai

Milenial Merayakan Buku

18.33


Solopos, 14 Desember 2017


DI HINDIA BELANDA, kehadiran buku dalam foto kira-kira terjadi pada awal abad 20. Kita bisa menyaksikannya dalam buku keluaran penerbit buku Islam mahsyur Solo, AB Sitti Sjamsijah, yang menerbitkan buku berjudul Agama dan Pengetahoean. Godsdienst en Wetenschap garapan Voorziter (Ketua) Moehammadijah Soerakarta, Kyai Moechtar Boechary. Buku itu terbit tahun 1927.

Aku menemui buku itu di perpustaakaan Bilik Literasi ketika menggarap majalah Kentingan awal tahun ini. Buku terkesan mewah karena sampul depan memajang foto hitam putih seorang lelaki muda. Ia berblangkon, memakai setelan jas ala Eropa, dan berkain jarit. Yang dahsyat, ia berfoto dalam pose duduk sambil memangku benda magis penghimpun kata-kata: buku!

Perkiraanku atas kehadiran foto dalam buku disebabkan dua hal. Pertama, teknologi kamera foto hadir di Hindia Belanda pada pertengahan abad 19. Candi Borobudur menjadi objek foto komersial pertama kali di Hindia pada 1845 (Anderson, 2008: 274). Kemudian gairah intelektual mengalir deras pada akhir abad 19 hingga awal abad 20, terlebih setelah pemerintah kolonial Belanda mengeluarkan kebijakan Politik Etis pada  1901.

Sebagai simbol utama ilmu pengetahuan dan intelektualitas, buku adalah benda yang wajib ada di setiap ruangan manusia Hindia yang mengaku ngintelek. Berkat teknologi kamera foto, buku yang selesai dibaca bisa dirayakan dengan cara lain. Dirayakan sebagai properti pose foto kaum intelektual Hindia abad 20.

Kebiasan ini berlanjut hingga awal abad 21. Buku – baik yang benar-benar buku atau hanya gambar buku – hadir di setiap seremonial wisuda di kampus-kampus seluruh Indonesia. Mahasiswa yang rakus membaca sampai yang emoh membaca, hampir pasti akan berfoto dengan latar belakang buku. Bisa bersama orang tua, adik-kakak, kekasih, atau gandengan bayaran. (Baca Selengkapnya...)

Like us on Facebook