Esai

Orientalisme Jurnalisme: Dilema Wartawan dalam Meliput Masyarakat Adat

03.21

Anak-anak Suku Anak Dalam (SAD) Batin Sembilan menikmati pendidikan dasar di kawasan konsesi Hutan Harapan PT Restorasi Ekosistem Indonesia (REKI), Desa Bungku, Bajubang, Batanghari, Jambi, Selasa (11/4). Puluhan anak-anak SAD yang tinggal di dalam kawasan dan sekitar hutan konsesi tersebut mendapatkan fasilitas pendidikan dasar gratis dari pihak pengelola Hutan Harapan dengan sistem jemput bola atau mendatangi langsung tempat-tempat bermain mereka. ANTARA FOTO/Wahdi Septiawan/aww/17.


JURNALISME telah melahirkan beragam genre. Jurnalisme investigasi, jurnalisme presisi, jurnalisme sastrawi, dan sebagainya. Namun nyaris semua jurnalisme yang dipakai, adalah jurnalisme yang eksis di tengah-tengah masyarakat perkotaan dengan budaya yang seragam. Tak terlalu nampak kesenjangan atau dominasi budaya satu dengan yang lain.

Dilema muncul ketika para jurnalis turun ke wilayah-wilayah pedalaman. Bertemu masyarakat yang tinggal di sana, lalu melaporkan dan menyajikannya dalam sebuah laporan jurnalistik. Padahal nyaris semua jurnalis dididik dalam lingkungan kampus berkurikulum modern. Mereka juga hidup dalam sebuah struktur masyarakat perkotaan yang tak banyak menemui isu-isu minoritas. 

Kalaupun ada, isu yang ditemui terbatas pada masyarakat minoritas yang masih tinggal di perkotaan (khususnya minoritas agama atau ekonomi-politik). Bagaimana meliput mereka yang ada di pedalaman? Mereka yang struktur masyarakat, agama, dan pola pikirnya berbeda dengan jurnalis kebanyakan. (Baca selengkapnya...)


Rekaman

Kata Max Lane, Indonesia Tidak Hadir di Bumi Manusia

07.32


Sumber gambar: Historia

"DOSA BESAR!" Katamu lantang, tenang.

Sialan. Suaramu itu membuat seratusan orang terhenyak. Mereka, yang baru saja membeli bukumu seharga 59 ribu, dipaksa menahan napas.

Kau melanjutkan celoteh. “Sastra Indonesia, pemikiran Indonesia sejak Kartini sampai ’65 tidak diajarkan di sekolah-sekolah menengah. Apakah memang saat ini pun Indonesia masih tidak hadir di Bumi Manusia?”

Hari itu, 12 Agustus 2017, para hadirin di Galeri Cipta III, Taman Ismail Marzuki, Jakarta - termasuk aku - akan dipaksa bertanya-tanya. “Siapa yang berdosa?”; “apakah yang tidak berdosa otomatis suci?”; “mengapa Indonesia tidak hadir di Bumi Manusia?”; “bagaimana cara menghadirkannya?”

Orang yang sudah membaca buku kumpulan esaimu akan tahu jawababannya.

Mereka bakal tahu kalau Adam Malik pernah berkata bahwa Tetralogi Pulau Buru sebaiknya jadi bacaan wajib buat semua pelajar sekolahan. Saat itu Adam Malik menjabat Wakil Presiden. Sayang, perkataannya tak pernah jadi ujud. (Baca selengkapnya)

Esai

Percayalah, Butuh Lengan Kuat untuk Jadi Wartawan

05.31


SETELAH MAGANG jadi wartawan, saya jadi sering push up tiap pagi. Sebelumnya, boro-boro push up. Mengangkat laundrian 3 kg saja ngos-ngosan.

Rutinitas push up tadi berasal dari buah kesadaran penting. Saya sadar kalau jadi wartawan bukan cuma butuh kemampuan menulis yang baik, bacaan yang luas, dan kemampuan wawancara yang lamis. Ternyata, jadi wartawan juga harus punya kekuatan lengan yang kuat.

Begini asal muasalnya. Syahdan, saya tengah magang di media daring yang sering dikira perusahaan air minum (apa hayo?) Di minggu kedua magang, di hari Jumat yang agung, koordinator liputan media tempat saya magang bersabda agar saya berangkat ke Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM). Katanya, alumni gerakan 212 mau reunian di sana.

Acara reuinian ternyata ramai juga. Tapi yang bikin ramai bukan nonton bareng Wiro Sableng atau gerak jalan bareng Partai Syariah 212. Ternyata selain reunian, mereka mau melayangkan pengaduan ke Komnas HAM. Kebetulan, junjungan agung mereka tengah diterpa kasus dugaan pesan cabul. Takbir! Baca selengkapnya...

Esai

Mengapa Masih Turun ke Jalan?

04.31


ESAIS DAN DEMONSTRAN telah bekerjasama. Langka memang. Tapi gegara menyoal demonstrasi digital, kelangkaan itu terpaksa ada. Contohlah esai Na’imatur Rofiqoh dan Ririn Setyowati. Walau penuh nyinyiran tapi nyaris solutif.

Penyiaran demonstrasi secara digital yang dilakukan Badan Eksekutif Mahasiswa Seluruh Indonesia (BEM SI) wilayah Jawa Tengah-DIY, melalui akun instagram @bemuns, 12 April 2017, sudah seperti ‘ramalan’ ciamik yang terwujud sebagai bentuk praktis dari esai Na’imatur, Aktivisme Mahasiswa di Era E-Demonstrasi (Kentingan, 2016).

Kemudian melalui esai Gawaiku Ramaikan Demonstrasimu (Solopos, 18 April 2017), Ririn Setyowati naik satu tingkat dengan jeli dan nyaris solutif merumuskan sebuah pertanyaan yang harus dijawab oleh para mahasiswa demonstran, “bagaimana membuat Jokowi dan antek-anteknya nge-klik live streaming kamu” (?).

Kini, izikan aku menjawab pertanyaan itu. Syukur bisa menjadi solutif seperti apa yang demonstran tunggu-tunggu. Baca selengkapnya...

Esai

I-Y-A-K

16.02

Iyak Belajar Mengaji
Ibu, Bapak, dan adik-adiknya memanggil bocah itu Iyak. Usia Iyak lima tahun. Ia senang belajar mengaji. Setiap malam usai sembahyang magrib, Iyak menghadap buku Qiraati. Itu sepuluh jilid buku untuk belajar huruf hijaiah. Dengan tekun, Ibu mengajari Iyak mengaji. “Alif fatah A, Alif kasrah I, Alif dhumah U. A-I-U.”

Dengan lincah, bola mata dan jari mungil Iyak mengikuti aliran huruf yang lucu itu. Ada yang bentuknya macam pentungan, ada yang bentuknya seperti semprotan kaca, ada juga yang seperti perahu.

Ibu biasa membeli buku Qiraati di pasar. Jadi, setiap mengkhatamkan satu jilid dan naik ke jilid berikutnya, Iyak selalu menanti Ibu pulang dari pasar membawa buku Qiraati yang baru. “Ibu, kapan beli Qiraati jilid baru?” Tanya Iyak penasaran. Warna bukunya yang warna-warni membuat Iyak semangat belajar mengaji. Baca selengkapnya...

Esai

Fakir Sastra, Fakir Asmara

20.29

Mimbar Mahasiswa Solopos, 27 Desember 2016
Melalui perkiraan kasar cenderung ngawur, saya mengira-ngira 95 persen buku sastra yang habis saya baca, mengandung kisah asmara di dalamnya.

Memangnya, kenapa sih cerita sastra hampir pasti ada kisah asmaranya, Sat?”

Saya menemukan jawaban pertanyaan ini di novel Siddhartha (Herman Hesse, 2014). Siddhartha yang sejak kecil hidup dalam ketenangan batin, menjadi pertapa, bahkan sempat bertemu Buddha Gautama, belum menemukan kebahagiaan hidup. Ia merasa, mematikan indranya melalui pertapaan bukanlah cara buat mencapai kebahagiaan.

Hingga akhirnya Siddhartha bertemu Kamala, seorang pelacur yang terhormat-dihormati. Siddhartha mempelajari cinta darinya. Kamala menjadi tokoh yang sungguh penting. Kalau tidak ada dia, tidak mungkin Siddhartha merasa penat dengan urusan duniawi, lantas ingin bunuh diri di tepi kali. Di tepi kali itulah Siddhartha mendengar suara yang membimbingnya menuju kebahagiaan, “Om...”

Nah, cinta nyatanya bisa menembus sekat-sekat rasionalitas, spiritualitas, apalagi cuma religiusitas.  Sastra pun demikian. Para mahasiswa dan dosen bisa saja berkelana mencari pengetahuan di buku-buku diktat dan teori. Namun bertemu sastra – seperti Siddhartha bertemu Kamala – akan menghidupkan indra-indra yang mati karena tuntutan rasionalitas. Baca selengkapnya...

Ulasan (Buku)

"Simulakra Sepakbola" (Zen RS): Bermain Sepakbola dengan Tangan

19.47

Koran Tempo, 12 November 2016
Judul Buku    : Simulakra Sepakbola
Penulis           : Zen RS
Penebit           : Indie Book Corner
Tahun Terbit : 2016

Priiittt! Zen RS menyentuh bola dengan tangan di kotak 16. Wasit meniup peluit tanda pelanggaran terjadi. Tapi Zen berkilah. “Kini, saya hanya bisa bermain sepakbola dengan tangan yang mengetikkan huruf demi huruf, kata demi kata, dan kalimat demi kalimat – menuliskan sepakbola” (hlm. 17).

Sungguh Zen telah berkhianat. Padahal sepakbola telah mengantarkannya dari kekanak-kanakan menuju kedewasaan. Dalam tulisan Kebahagiaan Sepakbola Agustusan, Zen berkisah tentang sepakbola yang menjadi ritual penting di kampungnya. Berkat turnamen sepakbola antarkampung, Zen kecil bisa duduk sejajar dengan para pemuda dan orang dewasa, menghadiri rapat-rapat Karang Taruna, hingga diundang secara langsung ke pesta pernikahan.

Tapi tak apalah. Pengkhianatan Zen terhadap kakinya bisa dimaafkan oleh pembaca. Simak bagaimana lihainya ia memainkan bola dengan tangan di esai Bertukar Tangkap dengan Lepas. Sebuah pelacakan Zen ihwal keterbatasan bahasa Indonesia dalam menampung istilah-istilah sepakbola. Baca selengkapnya...

Like us on Facebook